Kamis, 06 Oktober 2016

4 Hal Yang Bikin Pendidikan KIta Kacau




Hari ini saya mau ngoceh tentang pendidikan. Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata pendidikan? 

Sebuah sekolah kah? Guru? Siswa? Ilmu pengetahuan? Belajar? Kurikulum? Buku? Mungkin yang imajinasinya tingkat dewa, langsung membayangkan sebuah peradaban kali ya.. #wuiihhhh cakep bener. Yang jelas, kata pendidikan selalu disandingkan dengan semua  kata yang bersifat positif. Betul?

Mari kita tengok sejarah sebentar. Pada zaman penjajahan tidak semua rakyat Indonesia dapat mengakses pendidikan dengan bebas.  Alasannya tentu saja karena si penjajah tidak mau jika bangsa yang dijajahnya menjadi pintar dan memiliki kapabilitas yang baik untuk melawan mereka. 

Namun, atas berkat rahmat Allah Subhanallahu Wa Ta’ala dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan bebas, ada saja anak bangsa yang mampu mengenyam pendidikan. Hingga dengan ilmu yang diperolehnya tersebut akhirnya lahirlah pergerakan kemerdekaan. Alih-alih menunggu belas kasihan negara-negara penjajah itu, mereka justru mampu menggerakkan bangsa Indonesia untuk bersama memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. 

Abad berganti, zaman berlalu. Pendidikan yang tadinya dianggap sebagai solusi tepat guna membangun generasi-generasi penerus  yang mampu memajukan bangsa ini, kini berbalik 180 derajat. Karena saat ini tidak sedikit orang-orang yang mendapatkan pendidikan terbaik, orang-orang terpelajar yang seharusnya menjadi panutan masyarakat justru tersandung berbagai kasus. Banyak diantara mereka yang bahkan berakhir dibalik jeruji besi. Mereka menggunakan ilmunya untuk membodohi negara, menyelewengkan aset , menggelapkan pajak, dan lain sebagainya.  Lalu dewasa ini kita pun seakan-akan telah terbiasa disuguhi berbagai berita tentang  pelajar yang terlibat tawuran, narkoba, maupun free sex.Tentu saja, kita memang tidak bisa juga lantas mengatakan itulah hasil dari pendidikan saat ini. Karena memang meski sedikit tetap saja ada anak bangsa yang berprestasi. Bahkan hingga ke kancah internasional.
Di sini saya menyimpulkan ada empat hal yang membuat pendidikan kita kacau balau saat ini.

Yang pertama, kurang terjalinnya hubungan yang saling bersinergi antara orang tua dan guru. Banyak orang tua yang merasa menyekolahkan anak sudah meluruhkan sebagian tanggung jawab orang tua akan pendidikan si anak. Padahal idealnya konsep pembelajaran sikap maupun karakter antara sekolah dan di rumah hendaklah saling melengkapi. Kita tidak bisa menyalahkan guru saja mengapa banyak anak yang saat ini bisa begitu mudah melakukan berbagai tindak anarkis. Demikian juga kita tidak bisa hanya menyalahkan orang tua saja. Pendidikan tidak akan berhasil jika hanya dijalankan satu pihak saja.semua harus berperan aktif.

Kedua, konsistensi dari pemerintah. Saya pernah membaca sebuah ulasan bahawa ada alasan mengapa para ahli begitu hati-hati mengartikan kata “policy” dalam bahasa Inggris ke bahasa Indonesia sebagai “kebijakan”. Bahwa sesuatu yang bijak sudah barang tentu mengandung kebaikan. Karenanya sudah sepantasnya pemerintah membuat  berbagai kebijakan mengenai regulasi yang mendukung kemajuan pendidikan. Bukannya malah disetting untuk kepentingan politis. Kebijakan kurikulum, kesejahteraan para pendidik, pengadaan sarana- prasarana yang berkualitas dan juga pengawasan, hendaknya dibuat semata-mata berdasarkan semangat memajukan pendidikan di negara ini.

Ketiga, kualitas para pendidik. Kita tidak mungkin bisa menghasilkan anak didik yang juga berkualitas jika gurunya saja tidak bersemangat, tidak berusaha meningkatkan kreatifitasnya dalam melejitkan potensi pembelajar anak didiknya. Dalam hal ini, kembali pemerintah juga memiliki andil yang cukup besar untuk mewujudkan pendidik yang berkualitas.

Keempat, tanggung jawab dari anak didik itu sendiri. Tentu saja adalah tugas para orang tua, guru, juga masyarakat untuk mengajarkan tanggung jawab ini kepada para anak didik. Hanya saja tentu kita mengamini bersama bahwa pada dasarnya setiap individu memiliki kontrol sosialnya sendiri. Karenanya saya pribadi percaya anak didik sebenarnya memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan tidak sebagai fitrahnya menjadi seorang manusia yang utuh. Pilihan-pilihan akan baik dan tidak itu tentu berada di tangan mereka jua. 

Keempat hal ini tentunya menjadi evaluasi kita bersama. Demikianlah pandangan saya sebagai orang awam. Bagaimana dengan teman-teman? Ada yang mau menambahkan?­ ^_^


#Palangkaraya

7 komentar:

  1. Mina La, aku percaya kau adalah satu dr sekian pendidik yg berkualitas :)

    BalasHapus
  2. Amiin..😊walaupun sebenernya aku juga masih harus banyak belajar..

    BalasHapus
  3. S etuju...4 hal itu saling terkait

    BalasHapus
  4. Ainayya seorang siswi aja, hihihi

    Kalau bandel dapat hadiah coklat. Asyiiik
    Ahaha. Padahal, sih, disuruh kerjain tugas. Duh,

    BalasHapus

10 Aktivitas Yang Bisa Kalian Coba #dirumahaja Selain Rebahan.

Hi Gaes. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga tetap   selalu sehat dan berbahagia bersama orang-oarang tersayang di rumah. Well, hari...