Hari ini saya mau
ngoceh tentang pendidikan. Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar
kata pendidikan?
Sebuah sekolah
kah? Guru? Siswa? Ilmu pengetahuan? Belajar? Kurikulum? Buku? Mungkin yang
imajinasinya tingkat dewa, langsung membayangkan sebuah peradaban kali ya..
#wuiihhhh cakep bener. Yang jelas, kata pendidikan selalu disandingkan dengan
semua kata yang bersifat positif. Betul?
Mari kita tengok
sejarah sebentar. Pada zaman penjajahan tidak semua rakyat Indonesia dapat
mengakses pendidikan dengan bebas.
Alasannya tentu saja karena si penjajah tidak mau jika bangsa yang
dijajahnya menjadi pintar dan memiliki kapabilitas yang baik untuk melawan
mereka.
Namun, atas
berkat rahmat Allah Subhanallahu Wa Ta’ala dan dengan didorongkan oleh keinginan
luhur supaya berkehidupan bebas, ada saja anak bangsa yang mampu mengenyam
pendidikan. Hingga dengan ilmu yang diperolehnya tersebut akhirnya lahirlah
pergerakan kemerdekaan. Alih-alih menunggu belas kasihan negara-negara penjajah
itu, mereka justru mampu menggerakkan bangsa Indonesia untuk bersama
memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.
Abad berganti,
zaman berlalu. Pendidikan yang tadinya dianggap sebagai solusi tepat guna
membangun generasi-generasi penerus yang
mampu memajukan bangsa ini, kini berbalik 180 derajat. Karena saat ini tidak
sedikit orang-orang yang mendapatkan pendidikan terbaik, orang-orang terpelajar
yang seharusnya menjadi panutan masyarakat justru tersandung berbagai kasus. Banyak
diantara mereka yang bahkan berakhir dibalik jeruji besi. Mereka menggunakan
ilmunya untuk membodohi negara, menyelewengkan aset , menggelapkan pajak, dan
lain sebagainya. Lalu dewasa ini kita
pun seakan-akan telah terbiasa disuguhi berbagai berita tentang pelajar yang terlibat tawuran, narkoba, maupun
free sex.Tentu saja, kita memang tidak bisa juga lantas mengatakan itulah hasil
dari pendidikan saat ini. Karena memang meski sedikit tetap saja ada anak
bangsa yang berprestasi. Bahkan hingga ke kancah internasional.
Di sini saya
menyimpulkan ada empat hal yang membuat pendidikan kita kacau balau saat ini.
Yang pertama, kurang
terjalinnya hubungan yang saling bersinergi antara orang tua dan guru. Banyak orang
tua yang merasa menyekolahkan anak sudah meluruhkan sebagian tanggung jawab
orang tua akan pendidikan si anak. Padahal idealnya konsep pembelajaran sikap
maupun karakter antara sekolah dan di rumah hendaklah saling melengkapi. Kita tidak
bisa menyalahkan guru saja mengapa banyak anak yang saat ini bisa begitu mudah
melakukan berbagai tindak anarkis. Demikian juga kita tidak bisa hanya
menyalahkan orang tua saja. Pendidikan tidak akan berhasil jika hanya
dijalankan satu pihak saja.semua harus berperan aktif.
Kedua,
konsistensi dari pemerintah. Saya pernah membaca sebuah ulasan bahawa ada
alasan mengapa para ahli begitu hati-hati mengartikan kata “policy” dalam
bahasa Inggris ke bahasa Indonesia sebagai “kebijakan”. Bahwa sesuatu yang
bijak sudah barang tentu mengandung kebaikan. Karenanya sudah sepantasnya pemerintah
membuat berbagai kebijakan mengenai
regulasi yang mendukung kemajuan pendidikan. Bukannya malah disetting untuk
kepentingan politis. Kebijakan kurikulum, kesejahteraan para pendidik,
pengadaan sarana- prasarana yang berkualitas dan juga pengawasan, hendaknya
dibuat semata-mata berdasarkan semangat memajukan pendidikan di negara ini.
Ketiga, kualitas
para pendidik. Kita tidak mungkin bisa menghasilkan anak didik yang juga
berkualitas jika gurunya saja tidak bersemangat, tidak berusaha meningkatkan
kreatifitasnya dalam melejitkan potensi pembelajar anak didiknya. Dalam hal
ini, kembali pemerintah juga memiliki andil yang cukup besar untuk mewujudkan
pendidik yang berkualitas.
Keempat, tanggung
jawab dari anak didik itu sendiri. Tentu saja adalah tugas para orang tua, guru, juga masyarakat untuk mengajarkan tanggung jawab ini kepada para anak didik. Hanya saja
tentu kita mengamini bersama bahwa pada dasarnya setiap individu memiliki
kontrol sosialnya sendiri. Karenanya saya pribadi percaya anak didik sebenarnya
memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan tidak sebagai fitrahnya
menjadi seorang manusia yang utuh. Pilihan-pilihan akan baik dan tidak itu
tentu berada di tangan mereka jua.
Keempat hal ini
tentunya menjadi evaluasi kita bersama. Demikianlah pandangan saya sebagai
orang awam. Bagaimana dengan teman-teman? Ada yang mau menambahkan? ^_^
#Palangkaraya

Mina La, aku percaya kau adalah satu dr sekian pendidik yg berkualitas :)
BalasHapusAmiin..😊walaupun sebenernya aku juga masih harus banyak belajar..
BalasHapusS etuju...4 hal itu saling terkait
BalasHapusseetuju..cik gu
BalasHapussepatu...
BalasHapusAinayya seorang siswi aja, hihihi
BalasHapusKalau bandel dapat hadiah coklat. Asyiiik
Ahaha. Padahal, sih, disuruh kerjain tugas. Duh,
full day school.. yeayyyy .. horeeee
BalasHapus