Jumat, 13 Januari 2017

My Flash Light



“Mana Rapotmu Lia?” tanya Ust. Haris. Malam itu pondok sepi. Para santri banyak yang pulang ke rumah mereka masing-masing untuk menghabiskan liburan semester. Hanya aku dan beberapa teman yang memang tidak punya pilihan untuk pulang yang masih bertahan di pondok. Well, rumahku di Kalimantan sana. Aku baru pulang saat liburan puasa Ramadhan. Begitu juga Susi temanku dari Lombok. Kalau Maramitha sih rumahnya dekat sekali dari pondok, karena malas saja, makanya dia memutuskan untuk tidak pulang. Bingung mau ngapain, kami pun memutuskan untuk leyeh-leyeh di serambi pondok. Saat itulah Ust. Haris datang. Membawa gorengan. Dengan mata berpendar, kami pun menyambut beliau dengan riang gembira. Sepertinya Ustadz kami yang baik hati itu tahu betul kami bakal keleleran di pondok.

Demi mendengar pertanyaan beliau aku langsung berlari menuju kamarku lantai dua. Mengambil rapot yang baru saja ku terima tadi pagi di kelas.

“Nilai-nilaimu cukup bagus Lia.” Ust. Haris berujar sembari menekuri lembar- demi lembar dari rapotku.

“Tapi pak, saya masih belum bisa menguasai Bahasa Arab dengan benar.  Ahh.. Faroidh. Itu benar-benar membuat frustasi.” Keluhku panjang lebar pada laki-laki kelahiran Sumenep di hadapanku itu. Mumpung kewajiban menggunakan lughoh tidak aktif, dan tidak ada yang men-ta’zir.

“Kamu dari SMP umum kan? Dan ini tahun pertamamu belajar Bahasa Arab. Wajar saja jika  kamu belum begitu lancar berbahasa Arab. Tapi menurut bapak ini awal yang bagus, kamu bisa di peringkat tujuh.” Kata beliau lagi.

Walaupun hati senang karena telah dipuji guru favoritku itu, aku tetap memasang wajah cemberut. Owh, ayolah, apa bagusnya perigkat tujuh? Saat SMP aku biasa selalu masuk 3 besar. Tapi Ustadz Haris dengan ketenangan dan keteduhannya mampu menasehatiku dengan cara yang sangat cantik. Dengan cerita. Aku bahkan bersedia duduk lama-lama demi mendengarkan beliau bercerita saat berkesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Mesir selama satu tahun. Padahal saat itu beliau pun belum pandai benar berbahasa Arab. Masih sebatas “huwa- humaa- hum” kata beliau. Waahh.. semakin terkagumlah aku kepada beliau.
Suatu hari entah bagaimana Ust. Haris memintaku mengikuti lomba penulisan karya ilmiah yang diselenggarakan Woman Crisis Center Kab. Jombang bersama dua temanku yang lain. Maka dimulailah penderitaanku. Ust. Haris meminta kami membaca banyak sekali buku. Padahal asal kalian tahu, meski aku suka sekali membaca, aku itu lebih suka membaca novel atau komik. Mana suka aku membaca buku tentang perempuan. Ya please deh, aku perempuan. Disuruh baca buku tentang perempuan.

Tapi sekali lagi, Ust. Haris bisa membuatku tak punya pilihan lain selain melahap buku-buku yang beliau sodorkan itu. Kami pun banyak berdiskusi. Dan ternyata aku malah ketagihan. Semakin banyak buku yang ku baca mengenai perempuan, semakin banyak juga pertanyaan bermunculan di otakku. Hingga bahkan pertanyaan itu malah terlihat sepele dan konyol. Ini memang kebiasaanku sejak kecil.

Saat SD, aku bahkan sering mendatangi guruku yang sedang piket untuk bertanya -karena saking penasarannya-, “Bu guru, kenapa setiap wilayah negara punya batasnya masing-masing?” atau “Kenapa negara kita diberi nama Indonesia?” Bahkan aku bertanya, kenapa pohon itu disebut pohon?” Parah. Hahaha.. Semoga guru SD ku itu diberi kemuliaan oleh Allahu Rabbi.

Tapi Ustadzku itu alih-alih menertawakanku, beliau justru memberiku buku baru untuk dibaca. Ya Salaaam... padahal aku yakin sekali dengan keluasan ilmu beliau, adalah hal yang gampang untuk beliau menjelaskannya dengan gamblang kepadaku.

Namun semua itu tidak sia-sia. Setelah semua diskusi, semua perdebatan, juga gorengan dan es teh, karya tulis kami pun dianggap layak oleh Ust. Haris. Kami pun berangkat dengan kepercayaan diri yang tinggi. Sayangnya, kepercayaan diri kami itu pun meleleh setiba kami di tempat lomba. Sekolah-sekolah yang lain sudah menggunakan laptop sebagai media presentasi mereka. Sedangkan kami hanya menenteng buku-buku. Saat itu memang kami tidak tahu kalau presentasinya akan digelar secara terbuka seperti itu, karena memang tidak ada pemberitahuan dari pihak panitia.

“Tunggu ustadz di sini.”kata Ust. Haris, yang kemudian berlalu sebelum kami sempat menjawab.

Tak berapa lama beliau datang dengan membawa gulungan karton putih dan spidol dan beberapa minuman mineral.

“Kalian presentasi pakai ini saja.” Ujar beliau sembari menyerahkan bawaannya itu.

Jadilah kami presentasi dengan karton itu. Meski nampak menggenaskan, alhamdulillah kami bisa membawa pulang gelar juara tiga. Sungguh sebuah moment yang membahagiakan.

Sebenarnya banyak sekali hal yang bisa ku ceritakan tentang guruku itu. Beliau itu tempat curhat yang asyik. Seperti dengan orang tua sendiri. Pun di lain waktu bisa menjelma menjadi teman debat ngalor-ngidul. Tempat aku mempresentasikan mimpi-mimpi dan idealisme yang sekarang jika aku mengingatnya, aku bakal ketawa sendiri karena sadar betapa naifnya aku dulu.

Ah, setelah dipikir-pikir lagi, Allah itu sungguh teramat baik padaku. Ia memertemukanku dengan orang-orang hebat seperti guru-guruku itu. sungguh aku berharap, semoga aku bisa menjadi seperti beliau-beliau itu. Menjadi pribadi- pribadi yang menginspirasi.
Semoga Allah selalu memuliakan Ust. Haris dan semua guru-guruku yang lain. Aamiin.
Ust. Haris dan Mr. Mukhit

*Pulang Pisau
*ODOP Challenge 
*Tantangan Mbak Dymar

1 komentar:

10 Aktivitas Yang Bisa Kalian Coba #dirumahaja Selain Rebahan.

Hi Gaes. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga tetap   selalu sehat dan berbahagia bersama orang-oarang tersayang di rumah. Well, hari...