“Jangan khawatir.
Mas cuma kelelahan. Akhir-akhir ini di kantor lagi banyak kerjaan. Jadi kadang
mas terlambat makan.” Jawab laki-laki jangkung yang kini terbaring lemah di ranjang pasien itu.
“Seharusnya,
sesibuk apapun mas tetap tahu batasan badannya mas” jawabku. Entah mengapa nada
suaraku lebih tinggi dari yang ku duga.
“Jangan marah,
ini juga kan karena kamu dek.” Katanya menggoda.
Aku mengerenyitkan
dahi. Tanda tak mengerti.
“Coba kamu mau
mas ajakin nikah, makannya mas pasti teratur,”katanya sambil mengerlingkan
matanya yang jenaka. Meski terlihat pucat wajah tampan ramahnya masih terlihat
menarik.
“Kita kan sudah
pernah bahas ini mas. Bukannya aku nggak mau. Tapi..”
“Iya, mas ngerti.
Kamu mau menyelesaikan kuliahmu dulu kemudian bekerja kan?” katanya memotong
kalimatku sambil tersenyum dan memegang tanganku. Tatapan teduhnya hampir membuatku tak berkutik.
“Aku ingin membuktikan
kepada Ayah dan Ibu kalau aku sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab atas
diriku sendiri mas.”
Tiba-tiba
ponselku kembali bernyanyi. Panggilan masuk. Dari Asti. Ku tunjukkan layar ponselku
pada mas Prabu. Ia mengangguk. Aku pun beranjak, mendekati jendela dan menerima
panggilan itu.
“Aduh.. maaf
sekali Asti. Mas Prabu masuk rumah sakit. Jadi, aku langsung ke sini tadi.”
“Kenapa? Apa penyakitnya
kambuh?” tanya Asti gusar.
“Nggak kok, hanya
sedikit kelelahan dan pola makan yang tidak beraturan. Tapi hasil CT scannya
akan keluar nanti siang. Sepertinya aku akan disini untuk sementara. Nggak ada
yang menemani mas Prabu. Kalau memungkinkan titip absen ya?”
“Nggak bisa Alya.
Kau tahu kan, Pak Rudi?”
“Ya sudah. Nanti aku
pinjam catatanmu. Oke?”
“Yakin kamu mau
bolos hari ini? Minggu depan kita sudah UTS loh Al.”
“Iya, aku tahu. Tapi
mau bagaimana lagi? Sudah sana, kalau tidak cepat kau akan terlambat masuk
kelas.”
“Baiklah. Ingat jangan
macam-macam!! Kalian belum menikah. Sebenarnya
aku lebih suka kamu kuliah daripada berduaan sama dia di sana.”
Aku tersenyum. Sahabatku
satu itu kadang suka berlebihan. Memangnya aku mau ngapain? Lihatlah, setelah
menghabiskan bubur ayam yang kubawakan tadi, kini mas Prabu pun tertidur dengan
pulas. Pasti karena pengaruh obatnya.
“Iya, Ustadzah
Asti .” jawabku lagi.
***
Palangkaraya
5 Mei 2016
#OneDayOnePost
#TantanganBulanMei

Setuju, memangnya mau ngapain sama yang sakit, apalagi yang sakit lagi tidur.
BalasHapus