Kamis, 05 Mei 2016

Elegi Sunyi Sepotong Hati (2)



“Jangan khawatir. Mas cuma kelelahan. Akhir-akhir ini di kantor lagi banyak kerjaan. Jadi kadang mas terlambat makan.” Jawab laki-laki jangkung yang kini terbaring lemah di ranjang pasien itu.


“Seharusnya, sesibuk apapun mas tetap tahu batasan badannya mas” jawabku. Entah mengapa nada suaraku lebih tinggi dari yang ku duga. 


“Jangan marah, ini juga kan karena kamu dek.” Katanya menggoda.


Aku mengerenyitkan dahi. Tanda tak mengerti.


“Coba kamu mau mas ajakin nikah, makannya mas pasti teratur,”katanya sambil mengerlingkan matanya yang jenaka. Meski terlihat pucat wajah tampan ramahnya masih terlihat menarik.


“Kita kan sudah pernah bahas ini mas. Bukannya aku nggak mau. Tapi..”


“Iya, mas ngerti. Kamu mau menyelesaikan kuliahmu dulu kemudian bekerja kan?” katanya memotong kalimatku sambil tersenyum dan memegang tanganku. Tatapan teduhnya hampir membuatku tak berkutik.


“Aku ingin membuktikan kepada Ayah dan Ibu kalau aku sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab atas diriku sendiri mas.”


Tiba-tiba ponselku kembali bernyanyi. Panggilan masuk. Dari Asti. Ku tunjukkan layar ponselku pada mas Prabu. Ia mengangguk. Aku pun beranjak, mendekati jendela dan menerima panggilan itu.


“Aduh.. maaf sekali Asti. Mas Prabu masuk rumah sakit. Jadi, aku langsung ke sini tadi.”


“Kenapa? Apa penyakitnya kambuh?” tanya Asti gusar.


“Nggak kok, hanya sedikit kelelahan dan pola makan yang tidak beraturan. Tapi hasil CT scannya akan keluar nanti siang. Sepertinya aku akan disini untuk sementara. Nggak ada yang menemani mas Prabu. Kalau memungkinkan titip absen ya?”


“Nggak bisa Alya. Kau tahu kan, Pak Rudi?”


“Ya sudah. Nanti aku pinjam catatanmu. Oke?”


“Yakin kamu mau bolos hari ini? Minggu depan kita sudah UTS loh Al.”


“Iya, aku tahu. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah sana, kalau tidak cepat kau akan terlambat masuk kelas.”


“Baiklah. Ingat jangan macam-macam!!  Kalian belum menikah. Sebenarnya aku lebih suka kamu kuliah daripada berduaan sama dia di sana.”


Aku tersenyum. Sahabatku satu itu kadang suka berlebihan. Memangnya aku mau ngapain? Lihatlah, setelah menghabiskan bubur ayam yang kubawakan tadi, kini mas Prabu pun tertidur dengan pulas. Pasti karena pengaruh obatnya.


“Iya, Ustadzah Asti .” jawabku lagi.


***
Palangkaraya
5 Mei 2016
#OneDayOnePost
#TantanganBulanMei


1 komentar:

  1. Setuju, memangnya mau ngapain sama yang sakit, apalagi yang sakit lagi tidur.

    BalasHapus

10 Aktivitas Yang Bisa Kalian Coba #dirumahaja Selain Rebahan.

Hi Gaes. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga tetap   selalu sehat dan berbahagia bersama orang-oarang tersayang di rumah. Well, hari...