Matahari begitu
terik siang ini. Langit Banjarmasin
nyaris bersih tanpa dihiasi awan. Untung Masjid Sabilal Muhtadin ini memiliki halaman
hijau yang ditumbuhi banyak pohon besar yang rindang. Hamparan rumput hijaunya
bagai permadani yang mebuat orang tergoda untuk tidur atau sekedar beristirahat
melepas penat sejenak.
Masjid ini adalah
masjid favoritku. Aku sering sekali ke Masjid ini. Menurutku seharusnya mesjid-mesjid
yang lain pun seperti ini. Luas, bersih, tenang, dan halamannya nyaman. Banyak masjid
di Kalimantan Selatan yang kujumpai Wcnya
berbau kurang sedap, bising karena terletak persis di depan jalan raya, dan
kurang asri karena halamannya ditutupi paving semen. Terkesan panas, gersang
dan tidak indah.
“Nggak lama kan
nunggunya Al?”tanya Asti. Kerudung kuning kunyit lebarnya berkibar dipermainkan
angin.
“Nggak kok. Aku juga
baru selesai Dzuhurannya.”
Gadis bergamis
kuning gading dengan pola bunga-bunga kecil itu pun meletakkan tas serta
bungkusan kresek putih yang aromanya sungguh menggugah selera, lalu duduk di
hadapanku.
“Kamu nggak
sholat dulu?”
“Nggak, aku lagi
dapet. Nih, aku bawain soto Banjar H. Anang. Plus es teh lemon favoritmu.”
“Aahh Asti.. kamu
emang the best pokoknya.”
“Gimana hasil CT
scannya Prabu?”
“Alhamdulillah,
semua normal. Hahh..Rasanya lega sekali. Tadinya aku sudah parno sendiri kalau
penyakitnya kambuh. Kamu tahu kan fasilitas kesehatan disini kurang memadai
untuk menangani penyakitnya”, kataku sembari asyik menikmati soto Banjarku.
“Padahal dia
selalu terlihat sehat dan ceria. Sebenarnya, kadang kekonyolannya benar-benar
membuat orang-orang terkecoh. Tadinya mana aku percaya kalau dia adalah pegawai
BUMN, lulusan UGM. Jangan tersinggung Al, aku hanya mencoba jujur.”
Aku tersenyum,
menyeruput es teh lemonku dan menjawab, “iya, nggak apa-apa
kok. Memang begitulah mas Prabu. Dia mewarisi keramahan dan ketulusan orang Jogja.
Walau begitu, dia dewasa, pengertian, juga cerdas loh. Dia sering membantuku dan
selalu mau ngalah sama aku. Hahaha ”
“Iya aku percaya
Prabu memang baik. Mhmm, serius neh Al. Kenapa kamu nggak nikah aja sama Prabu?
Toh kalian sudah lama pacaran kan?”
“Aku kan belum
lulus As?”
“Memangnya kenapa
harus nunggu luus dulu? Prabu mapan dan berpikiran terbuka. Dia pasti
mengijinkanmu untuk melanjutkan kuliahmu.”
“Iya, kalau soal
itu sih aku juga tahu. Tapi aku kan mau kerja dulu. Mau menyenangkan orang
tuaku dulu.”
“Alya Adriana,
ngapain sih pacaran lama-lama?? Yang ada kamu nabung dosa loh.”
Aku tertawa. Sejak
Asti aktif dalam berbagai kajian keislaman di kampus, ia getol sekali
menyuruhku menikah kalau nggak memutuskan hubunganku denganmas Prabu. Padahal, dulu
dia yang paling senang saat tahu aku jadian dengan mas Prabu.
“Asti sayang,
percaya deh aku tu nggak pernah ngapa-ngapain kok sama mas Prabu. Kamu tahu aku
kan? Lagian mas Prabu juga nggak pernah ngajakin yang aneh-aneh kok.”
“Alya sayang,
dosanya mata itu ya melihat. Melihat hal yang tidak diperbolehkan untuk
dilihat. Dosanya hati ya merasa, merasakan hal yang tidak seharusnya...”
“Wait.. ada pesan
masuk.” Kataku memotong ceramah panjang lebar Asti.
Ayo kita menikah!
“Dari siapa?” tanya Asti.
Aku hanya tersenyum simpul.
"Pasti dari guru Matematika itu kan?" selidik Asti.
***
Palangkaraya
5 Mei 2016
#OneDayOnePost


Sekarang yang ngajak nikah gayanya aneh-aneh ya?
BalasHapusdiajak nikah berulang kali, bukan bercanda lg ini.. 😁
BalasHapus