Kamis, 05 Mei 2016

Elegi Sunyi Sepotong Hati (3)






Matahari begitu terik siang ini.  Langit Banjarmasin nyaris bersih tanpa dihiasi awan. Untung Masjid Sabilal Muhtadin ini memiliki halaman hijau yang ditumbuhi banyak pohon besar yang rindang. Hamparan rumput hijaunya bagai permadani yang mebuat orang tergoda untuk tidur atau sekedar beristirahat melepas penat sejenak.   

Masjid ini adalah masjid favoritku. Aku sering sekali ke Masjid ini. Menurutku seharusnya mesjid-mesjid yang lain pun seperti ini. Luas, bersih, tenang, dan halamannya nyaman. Banyak masjid di Kalimantan Selatan yang kujumpai  Wcnya berbau kurang sedap, bising karena terletak persis di depan jalan raya, dan kurang asri karena halamannya ditutupi paving semen. Terkesan panas, gersang dan tidak indah.


“Nggak lama kan nunggunya Al?”tanya Asti. Kerudung kuning kunyit lebarnya berkibar dipermainkan angin.


“Nggak kok. Aku juga baru selesai Dzuhurannya.”


Gadis bergamis kuning gading dengan pola bunga-bunga kecil itu pun meletakkan tas serta bungkusan kresek putih yang aromanya sungguh menggugah selera, lalu duduk di hadapanku. 


“Kamu nggak sholat dulu?”


“Nggak, aku lagi dapet. Nih, aku bawain soto Banjar H. Anang. Plus es teh lemon favoritmu.”


“Aahh Asti.. kamu emang the best pokoknya.”


“Gimana hasil CT scannya Prabu?”


“Alhamdulillah, semua normal. Hahh..Rasanya lega sekali. Tadinya aku sudah parno sendiri kalau penyakitnya kambuh. Kamu tahu kan fasilitas kesehatan disini kurang memadai untuk menangani penyakitnya”, kataku sembari asyik menikmati soto Banjarku.


“Padahal dia selalu terlihat sehat dan ceria. Sebenarnya, kadang kekonyolannya benar-benar membuat orang-orang terkecoh. Tadinya mana aku percaya kalau dia adalah pegawai BUMN, lulusan UGM. Jangan tersinggung Al, aku hanya mencoba jujur.”


Aku tersenyum, menyeruput  es teh lemonku dan menjawab, “iya, nggak apa-apa kok. Memang begitulah mas Prabu. Dia mewarisi keramahan dan ketulusan orang Jogja. Walau begitu, dia dewasa, pengertian,  juga cerdas loh. Dia sering membantuku dan selalu mau ngalah sama aku. Hahaha ”


“Iya aku percaya Prabu memang baik. Mhmm, serius neh Al. Kenapa kamu nggak nikah aja sama Prabu? Toh kalian sudah lama pacaran kan?”


“Aku kan belum lulus As?”


“Memangnya kenapa harus nunggu luus dulu? Prabu mapan dan berpikiran terbuka. Dia pasti mengijinkanmu untuk melanjutkan kuliahmu.”


“Iya, kalau soal itu sih aku juga tahu. Tapi aku kan mau kerja dulu. Mau menyenangkan orang tuaku dulu.”


“Alya Adriana, ngapain sih pacaran lama-lama?? Yang ada kamu nabung dosa loh.”


Aku tertawa. Sejak Asti aktif dalam berbagai kajian keislaman di kampus, ia getol sekali menyuruhku menikah kalau nggak memutuskan hubunganku denganmas Prabu. Padahal, dulu dia yang paling senang saat tahu aku jadian dengan mas Prabu.


“Asti sayang, percaya deh aku tu nggak pernah ngapa-ngapain kok sama mas Prabu. Kamu tahu aku kan? Lagian mas Prabu juga nggak pernah ngajakin yang aneh-aneh kok.”


“Alya sayang, dosanya mata itu ya melihat. Melihat hal yang tidak diperbolehkan untuk dilihat. Dosanya hati ya merasa, merasakan hal yang tidak seharusnya...”


“Wait.. ada pesan masuk.” Kataku memotong ceramah panjang lebar Asti.


Ayo kita menikah!

“Dari siapa?” tanya Asti.


Aku hanya tersenyum simpul. 

"Pasti dari guru Matematika itu kan?" selidik Asti.





***
Palangkaraya
5 Mei 2016
#OneDayOnePost

2 komentar:

10 Aktivitas Yang Bisa Kalian Coba #dirumahaja Selain Rebahan.

Hi Gaes. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga tetap   selalu sehat dan berbahagia bersama orang-oarang tersayang di rumah. Well, hari...