Kamis, 05 Mei 2016

Elegi Sunyi Sepotong Hati (4)





“Aku serius Alya.” Kata laki-laki berkaca mata kelahiran Banjar itu.


Sehari setelah UTS, kak Khalil mengajak bertemu. Kami pun sepakat bertemu di sebuah rumah makan lesehan di pinggir siring Banjarmasin. Pemandangan sungai Martapura yang membelah kota Banjarmasin yang sibuk sore ini, benar-benar menawan. Tapi semua itu tak serta merta menghilangkan keterkejutanku atas pernyataan kak Khalil barusan. Laki-laki ini seperti tahu sekali bagaimana cara mengejutkanku. Bahkan kekhawatiranku atas nilai-nilai UTS-ku pun sempurna menghilang.


“Ta.. tapi kenapa kak?” kataku terbata. Kecerdasanku seperti lumpuh. Segera kuseruput jus alpukatku yang tersisa separuh.


Laki-laki itu mengerenyitkan keningnya. Melihatnya demikian, membuat pikiranku sedikit jernih. Atau mungkin akibat jusnya? Ah, sudahlah. 


“Kita sudah lama saling mengenal kak. Tapi selama ini kak Khalil nggak pernah menyatakan perasaan kak Khalil ke aku. Makanya ku pikir pesan-pesan kak Khalil selama ini hanya becandaan.”


Kak Khalil menatapku tajam. Hatiku berdesir.


“Aku itu nyari istri bukan pacar, Alya. Saat ini aku sudah siap untuk membangun sebuah keluarga. Dan aku mau kamu.”


“Tapi.. kak Khalil tahu kan? Aku punya pacar!”kataku tertahan,nyaris histeris. Laki-laki dihadapanku itu masih setia memasang wajah datarnya. 


“Putuskan dia. Dan menikahlah denganku.”


“Ini nggak adil untuk mas Prabu kak.”jawabku miris.


“Lihat aku!! Katakan kalau kamu nggak suka aku dan nggak mau menjadi istriku.” 


 Aku terdiam. Hatiku meloncat. Berdegum tak beraturan. Aku curiga jangan-jangan kak Khalil bisa mendengarnya.Otakku menyerah berpikir jawaban yang logis atas pemintaan kak Khalil itu. Untung saja suara merdu Jessie J memecah keheningan diantara kami. Panggilan masuk. Ponselku. Alih-alih menerima panggilan itu, aku justru segera mematikan nada deringnya demi melihat nama mas Prabu tertera di layar ponsel.


“Siapa? Kenapa nggak diangkat?”


“Orang missed called.”jawabku cepat. Aduh, Alyaa kenapa harus bohong sih? Aku mengecam diri sendiri.


“Pasti Prabu ya?” selidik Kak Khalil.


Aku diam. Kak Khalil menghela napas. Lalu berkata, “aku akan memberimu waktu untuk memikirkan jawabannya.”


Terbayang di benakku senyum jenaka mas Prabu. Mas Prabu yang ramah, yang selalu membantuku, yang tak pernah bosan mendengarkan segala cerita konyolku, yang tak lari meski aku sering merajuk tak jelas. Seperti sebuah film cepat, seluruh kebersamaan kami tiga tahun terakhir ini pun berseliweran di kepalaku. Mana bisa aku menyakiti hatinya begitu saja? Sedangkan kak Khalil, bukankah selama ini ia hanya angin? Yang bertiup diantara hiruk pikuk duniaku? Aku tak pernah bisa menebak  jalan pikirannya. 


“Nggak, aku akan memberikan jawabannya sekarang kak.”


Ponselku kembali berdering. Nama yang tertera di layar masih sama.




Taman Siring Banjarmasin

***
 Palangkaraya
5 Mei 2016
#OneDayOnePost

4 komentar:

10 Aktivitas Yang Bisa Kalian Coba #dirumahaja Selain Rebahan.

Hi Gaes. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga tetap   selalu sehat dan berbahagia bersama orang-oarang tersayang di rumah. Well, hari...