Hari ini, aku
melihatnya. Dia masih secantik dari yang terakhir kali kulihat. Rambut hitam
lurusnya tergerai dengan indah. Ah, sudahkah kuceritakan tentang senyumnya?
Senyumnya bagai sinar pagi yang hangat. Senyum tulus yang akan menghipnotismu
untuk terus bersamanya.
Aku terus memperhatikannya
dari mobilku. Tas berwarna toska disampirkannya di bahu kanan. Tangan kanannya
penuh dengan berkas-berkas kantor. Dia pasti membawa pekerjaannya ke rumah.
Gadis yang memiliki bentuk wajah oval itu seorang pekerja keras. Berulang kali
aku menyatakan keberatanku untuk tak lagi membawa pekerjaan kantornya ke rumah,
tapi ia hanya menjawab dengan senyum indahnya itu. Membuatku selalu kehilangan
kata-kataku.
Tangan kirinya membawa
cup kopi. Pasti latte. Dia penggila latte. Gadis berdarah Jawa-Padang itu pasti
bergadang semalam. Dan paginya, Ia selalu butuh kopi untuk membuat matanya
tetap terbuka. Kebiasaanya yang lain, yang juga kerap ku kritik. Tapi,
bagaimanapun itu, aku bersyukur sekali. Sepertinya dia baik-baik saja.
Hand phone-nya
berdering. Dengan susah payah ia pun menyelipkan benda persegi panjang putih
beraura futuristik itu ke telinga, lalu menahannya dengan bahu kiri. Riweuh
sekali. Ia kemudian menolehkan kepala ke kanan ke kiri, nampak sedang mencari
seseorang. Aku memutuskan untuk keluar
dari mobil dan mendekatinya.
Dari arah Coffe
Shop, seorang laki-laki berkemeja putih yang juga memegang hand phone mendatanginya.
“Ayu..” kata
laki-laki itu.
Siapa laki-laki
itu? Aku mengerenyitkan kening. Seingatku tidak ada teman Ayu yang seperti dia.
Ku lihat Ayu menoleh dan melambaikan tangannya sembari tersenyum. Mereka
terlihat begitu akrab satu sama lain. Ku abaikan rasa tak rela yang
perlahan-lahan mewarnai hatiku.
“Ayu..” sapaku
setenang mungkin. Aku tak ingin sampai gadis yang mengenakan blazer berwarna
biru di hadapanku itu tahu bagaimana tak karuannya detak jantungku saat ini.
Ayu menoleh. Ia
terperangah lalu tanpa sadar menjatuhkan cup kopinya.
“Mas Arya..”
katanya lirih.
Aku tersenyum.
***
Hari
itu aku meminta Ayu menemuiku di restauran tempat kami biasa menghabiskan waktu
bersama. Sebenarnya ia enggan. Kata ibuk, nggak ilok calon pengantin keluar
sehari sebelum acara. Tapi aku memaksa. Ku katakan padanya ada hal penting yang
ingin ku bicarakan padanya.
“Iya aku akan datang mas.” Ujarnya akhirny
mantap.
Aku datang lebih
awal. Aku tahu pasti, Ayu akan terlambat. Ada Festival di Kota. Pasti macet
sekali. Aku menyesap kopi pesananku dengan perasaan gelisah. Otakku dipenuhi
berbagai kemungkinan. Apa yang harus ku katakan padanya? Wanita yang telah
membersamaiku selama 5 tahun terakhir ini. Wanita yang seharusnya besok akan
sah menjadi Nyonya Arya.
“Aduh maaf mas, jalan macet banget, karena festival. Mana tadi sempat
ngeyel-ngeyelan dulu sama Ibuk. Kata Ibuk nggak ilok calon pengantin keluar
sehari sebelum acara. Udah lama ya mas nunggunya?” Ayu langsung duduk di
hadapanku lalu menyeruput Latte yang telah ku pesankan sebelumnya.
“Enggak kok,” jawabku tersenyum tipis. Berusaha menutupi keterkejutanku.
“Ada apa mas? Gedungnya udah oke kan? Apa ganti? Apa karena desain
pelaminannya?” tanyanya tak sabar.
Untuk sekejap aku terdiam. Aku meremas tanganku. Meneguhkan hati.
“Maaf, tapi aku tidak bisa menikah denganmu Yu.” jawabku perlahan.
Tiba-tiba ku rasakan sebuah luka menganga di hatiku.
Ayu terhenyak.
Wajahnya seketika memucat pasi. Lukaku pun menganga semakin luas. Perih. Aku
menundukkan wajah. Lalu menutup mata sejenak. Untuk beberapa saat kami terdiam.
“Tt..Tapi kenapa? Bagaimana bisa mas membatalkan pernikahan kita sehari
sebelum acara? Jangan becanda!! Ini nggak lucu mas!!“ tanyanya nyaris histeris.
Aku pun
mengangkat wajahku, lalu membenarkan letak kaca mataku. Sekali lagi meneguhkan
tekadku untuk melihat ke kedalaman matanya yang kini mulai berkaca-kaca.
“Maaf, tapi aku memang tak bisa menikah denganmu. Aku tidak suka
caramu tersenyum.” Desisku datar.
Ayu kembali
terhenyak. Nampak tak percaya atas apa yang telah didengarnya. Tiba-tiba aku
ingin mengutuk diriku sendiri yang bisa berbicara begitu lancarnya mengatakan
kalimat itu padanya. Ah, tidak! Seharusnya aku bersyukur. Karena semakin cepat
aku mengatakannya, semakin cepat pula kami mengakhiri siksaan ini, pikirku.
Tanpa mengatakan apapun, Ayu beranjak pergi dengan langkah gontai. Setiap
langkah yang memberi jarak di antara kami, aku sungguh berharap ini semua tak
nyata. Sebagian dari hatiku menjerit, memintaku memanggil namanya. Mati-matian
aku menahan kakiku untuk mengejar lalu memeluk gadis yang teramat ku kasihi
itu.
Saat sosoknya menghilang dari pandanganku, dengan serta-merta benakku
dibayangi ribuan tanda tanya. Kenapa ia pergi begitu saja? Rasanya akan lebih
mudah untukku kalau ia mencaci makiku, atau menamparku. Aku sudah bersiap untuk
menerima semua kemarahannya.
Aku meremas rambutku. Perasaan tak berdaya yang begitu pekat melingkupiku. Sebuah
kesadaran tiba-tiba menohokku. Tidak!! Ini salah!! Adalah bodoh kalau aku
melepaskan Ayu sekarang. Aku harus mengejarnya dan menjelaskan semuanya.
Aku berdiri dan bersiap pergi ketika ponselku berbunyi. Di layarnya
terpampang nama Clara. Seketika aku terduduk kembali dengan perasaan kalah.
***
Langit nampak
membiru. Aroma laut menyeruak dibawa angin. Deru ombak terdengar samar
diselingi gemerisik dedaunan. Di sinilah dulu aku melamar Ayu. Aku masih bisa
mengingat dengan jelas wajah bahagianya saat memasangkan cincin berpermata biru
di jari manisnya. Aku tersenyum simpul mengingat semua kenangan manis itu.
Sejak aku
melepaskannya, untuk waktu yang lama aku terus menyesali keputusanku. Meski
setiap harinya aku terus meyakinakan diriku bahwa ini semua yang terbaik yang
bisa ku lakukan untuk Ayu, aku terus merindukannya. Hingga rasa-rasanya hatiku
menjadi dingin.
Tapi kini semua
telah berlalu. Aku bisa memulai kembali awal yang baru bersama Ayu. Aku membuka
pintu Fortuner putihku. Mengeluarkan buket mawar putih besar, bunga favorit Ayu.
Pernah suatu
ketika aku memberinya mawar merah, sebagai perlambang cinta. Bunga itu berakhir
di tangan seorang nenek tua yang berpapasan dengan kami di jalan.
“Lain kali
bawakan aku mawar putih saja”, katanya riang sembari mengerlingkan sebelah
matanya.
“Kau yakin mawar
putih itu tak kan berakhir di tangan orang asing?” tanyaku sangsi.
Ayu tertawa
renyah.
“Mhmm.. aku tak
janji.” Sahutnya usil membuatku gemas sekali padanya.
Aku tersenyum
lagi. Akhirnya yang ku tunggu-tunggu pun datang. Angin mempermainkan rambutnya
yang dibiarkannya tergerai.
“Maaf harus
jauh-jauh memintamu ke sini.” kataku membuka percakapan.
Ayu hanya
ternyum.
“Ini untukmu.”
Kataku lagi sembari memberikan buket mawar putihnya.
“Terima kasih
mas.” Jawabnya pelan, terlihat ragu.
Aku menghela
napas. Ini tidak mudah. Kami diliputi kecanggungan yang aneh.
“Apa kau sudah
makan? Haruskah kita pergi dari sini dan mencari makan? Kau suka seafood kan?”
tanyaku lagi memecah jeda.
“Aku tidak lapar
mas.. maaf, tapi apa yang ingin mas bicarakan hingga memintaku ke sini?”
Aku menghela
napas lagi.kali ini lebih berat.
“Aku ingin kita
memulainya lagi dari awal Yu..”
Ayu terhenyak.
Lalu mematung. Aku merasa sangat frustasi dengan situasi ini. Dengan diamnya
Ayu.
“Ba.. bagaimana
bisa mas memintaku kembali setelah apa yang mas lakukan ke aku???” jawab Ayu
terbata. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Ayu tolong,
dengarkan penjelasanku dulu. Aku bisa jelasin semuanya!”
“Penjelasan?? Apa
yang membuat mas berpikir aku mau mendengar penjelasan mas itu? Aku
bertanya-tanya mengapa aku tak bisa menikah dengan mas. Dengan bodohnya aku masih
berusaha untuk memahamimu mas. Tapi tidak ada satu alasan pun yang bisa
membuatku paham. Lalu aku mulai menghibur diriku sendiri. Mungkin mas menderita
sebuah penyakit parah, jadi mas nggak mau menyusahkanku. Ya, rasanya itulah
satu-satunya alasan yang bisa membuatku bertahan. Tapi sekarang mas muncul
seolah tak terjadi apapun???” tanyanya histeris.
“Aku dijebak
Yu!!” kataku tercekat.
Ayu diam. Aku pun
menceritakan padanya tentang Clara yang menghubungiku seminggu sebelum
pernikahan kami. Bahwa Clara mengatakan tengah mengandung anakku. Bahwa ia
meminta pertanggung jawabanku. Clara juga mengatakan bahwa aku menidurinya
setelah pesta pembukaan kantor cabang di Surabaya.
“Ku akui saat itu
aku mabuk, tapi aku tak pernah merasa melakukannya. Karenanya aku meminta tes
DNA tapi itu hanya bisa dilakukan setelah bayinya lahir. Clara mengancamku akan
mengacaukan pernikahan kita kalau aku tak mau bertanggung jawab.” Kataku lagi.
Ayu masih diam.
“Aku nggak
mungkin membiarkan Clara merusak pernikahan kita dimana semua keluargamu berkumpul
itu tidak adil untuk ibuk yang sudah ku anggap sebagai ibuku sendiri yu..”
sambungku lagi.
“Jadi sekarang
mas mau bilang mas melakukan itu semua demi aku??” tanya Ayu masih histeris.
“Yu, please..
kamu tahu selam 5 tahun kita bersama, nggak pernah sekalipun aku main mata
dengan perempuan yang lain. Hanya kamu satu-satunya perempuan di hatiku,
dihidupku. Dan sekarang aku sudah membuktikan. Aku bukan ayah dari anak yang
dilahirkan Clara.”
Untuk beberapa saat Ayu diam, lalu lirih berkata,
“Apa mas tahu
bagaimana aku hidup selama satu tahun ini? Sejak mas mengatakan alasan mas tak
bisa menikahiku karena tak menyukai senyumanku, aku tak pernah lagi bisa
tersenyum. Hari demi hari aku mengutuk senyumku,
menyesali diriku yang membuat mas pergi. Perempuan macam apa aku hingga
senyumku pun membuatku tak cukup berharga untuk dinikahi..”
Ia mulai terisak. Kini aku yang
terdiam. Tak tahu lagi harus berkata apa. Oh, betapa aku benci melihat air mata
itu. Tiba-tiba aku sangat menyesali semua kata-kataku. Saat itu aku hanya asal
mencari alasan untuk memutuskannya. Sesungguhnya senyumnya adalah hal yang
paling ku suka darinya. Tak ku sangka kata-kata remehku itu melukainya teramat
dalam. Ku pikir selama ini ia bisa menjalani hidupnya dengan baik, mengingat ia
tetap pergi bekerja seperti biasa setiap harinya.
“Hari itu keputusan
mas telah menjelma menjadi vonis mati untukku!” katanya lagi pelan.
Saat menatap ke
kedalaman matanya, aku telah membunuh gadis itu, pikirku.
Angin
sore masih berayun dengan tenang. Sebuah buket mawar putih besar tergeletak tak
berpemilik.
Pulang Pisau


Sedih banget ceritanya, sadis juga cowoknya. Tapi nggak salah juga sih, konflik batin nya dahsyat. Suka sama bagian "selama setahun ini aku mengutuki senyum ku" kuat banget Kata katanya
BalasHapusWuaaaaahhh senangnya ada yang suka.. makasih uncle dah singgah ke sini..😆
HapusSadis nih cerita.
BalasHapusHehehe kali-kali lah maaakk..😂
HapusEaaaa
BalasHapus#langsungbaper
#eaaaaa mbak kifa..😂
Hapusgabungan cerita yaaa..apa lanjutan.
BalasHapusApa ya...mhmm.. ini cuma beda sudut pandang sih mbak.. kalo yang sebelumnya dari sudut pandang Ayu. Lanjutan aja deh..😆
Hapusgabungan cerita yaaa..apa lanjutan.
BalasHapusCampakkan saja lelaki semacam itu, Mina La
BalasHapusIya ya.. baiklah kalau begitu Mina Ci..😃😃😃
HapusKeren keren keren
BalasHapusMakasihhhh mbak wid..😍😍😍
Hapusditunggu cerita versi si cowok kopi nya..
Hapusiya ntar deh dipikirin dari versi dia..
Hapus