Senin, 03 Oktober 2016

Gadis Yang Kubunuh

Hari ini, aku melihatnya. Dia masih secantik dari yang terakhir kali kulihat. Rambut hitam lurusnya tergerai dengan indah. Ah, sudahkah kuceritakan tentang senyumnya? Senyumnya bagai sinar pagi yang hangat. Senyum tulus yang akan menghipnotismu untuk terus bersamanya.

Aku terus memperhatikannya dari mobilku. Tas berwarna toska disampirkannya di bahu kanan. Tangan kanannya penuh dengan berkas-berkas kantor. Dia pasti membawa pekerjaannya ke rumah. Gadis yang memiliki bentuk wajah oval itu seorang pekerja keras. Berulang kali aku menyatakan keberatanku untuk tak lagi membawa pekerjaan kantornya ke rumah, tapi ia hanya menjawab dengan senyum indahnya itu. Membuatku selalu kehilangan kata-kataku. 

Tangan kirinya membawa cup kopi. Pasti latte. Dia penggila latte. Gadis berdarah Jawa-Padang itu pasti bergadang semalam. Dan paginya, Ia selalu butuh kopi untuk membuat matanya tetap terbuka. Kebiasaanya yang lain, yang juga kerap ku kritik. Tapi, bagaimanapun itu, aku bersyukur sekali. Sepertinya dia baik-baik saja. 

Hand phone-nya berdering. Dengan susah payah ia pun menyelipkan benda persegi panjang putih beraura futuristik itu ke telinga, lalu menahannya dengan bahu kiri. Riweuh sekali. Ia kemudian menolehkan kepala ke kanan ke kiri, nampak sedang mencari seseorang.  Aku memutuskan untuk keluar dari mobil dan mendekatinya.

Dari arah Coffe Shop, seorang laki-laki berkemeja putih yang juga memegang hand phone mendatanginya.

“Ayu..” kata laki-laki itu.

Siapa laki-laki itu? Aku mengerenyitkan kening. Seingatku tidak ada teman Ayu yang seperti dia. Ku lihat Ayu menoleh dan melambaikan tangannya sembari tersenyum. Mereka terlihat begitu akrab satu sama lain. Ku abaikan rasa tak rela yang perlahan-lahan mewarnai hatiku.

“Ayu..” sapaku setenang mungkin. Aku tak ingin sampai gadis yang mengenakan blazer berwarna biru di hadapanku itu tahu bagaimana tak karuannya detak jantungku saat ini.

Ayu menoleh. Ia terperangah lalu tanpa sadar menjatuhkan cup kopinya. 

“Mas Arya..” katanya lirih.

Aku tersenyum.
***
           
          Hari itu aku meminta Ayu menemuiku di restauran tempat kami biasa menghabiskan waktu bersama. Sebenarnya ia enggan. Kata ibuk, nggak ilok calon pengantin keluar sehari sebelum acara. Tapi aku memaksa. Ku katakan padanya ada hal penting yang ingin ku bicarakan padanya.

 “Iya aku akan datang mas.” Ujarnya akhirny mantap.

Aku datang lebih awal. Aku tahu pasti, Ayu akan terlambat. Ada Festival di Kota. Pasti macet sekali. Aku menyesap kopi pesananku dengan perasaan gelisah. Otakku dipenuhi berbagai kemungkinan. Apa yang harus ku katakan padanya? Wanita yang telah membersamaiku selama 5 tahun terakhir ini. Wanita yang seharusnya besok akan sah menjadi Nyonya Arya.

“Aduh maaf mas, jalan macet banget, karena festival. Mana tadi sempat ngeyel-ngeyelan dulu sama Ibuk. Kata Ibuk nggak ilok calon pengantin keluar sehari sebelum acara. Udah lama ya mas nunggunya?” Ayu langsung duduk di hadapanku lalu menyeruput Latte yang telah ku pesankan sebelumnya.

“Enggak kok,” jawabku tersenyum tipis. Berusaha menutupi keterkejutanku.

“Ada apa mas? Gedungnya udah oke kan? Apa ganti? Apa karena desain pelaminannya?” tanyanya tak sabar. 

Untuk sekejap aku terdiam. Aku meremas tanganku. Meneguhkan hati.

“Maaf, tapi aku tidak bisa menikah denganmu Yu.” jawabku perlahan. Tiba-tiba ku rasakan sebuah luka menganga di hatiku.

Ayu terhenyak. Wajahnya seketika memucat pasi. Lukaku pun menganga semakin luas. Perih. Aku menundukkan wajah. Lalu menutup mata sejenak. Untuk beberapa saat kami terdiam.

“Tt..Tapi kenapa? Bagaimana bisa mas membatalkan pernikahan kita sehari sebelum acara? Jangan becanda!! Ini nggak lucu mas!!“ tanyanya nyaris histeris. 

Aku pun mengangkat wajahku, lalu membenarkan letak kaca mataku. Sekali lagi meneguhkan tekadku untuk melihat ke kedalaman matanya yang kini mulai berkaca-kaca.

“Maaf, tapi aku memang tak bisa menikah denganmu. Aku tidak suka caramu  tersenyum.” Desisku datar.

Ayu kembali terhenyak. Nampak tak percaya atas apa yang telah didengarnya. Tiba-tiba aku ingin mengutuk diriku sendiri yang bisa berbicara begitu lancarnya mengatakan kalimat itu padanya. Ah, tidak! Seharusnya aku bersyukur. Karena semakin cepat aku mengatakannya, semakin cepat pula kami mengakhiri siksaan ini, pikirku.

Tanpa mengatakan apapun, Ayu beranjak pergi dengan langkah gontai. Setiap langkah yang memberi jarak di antara kami, aku sungguh berharap ini semua tak nyata. Sebagian dari hatiku menjerit, memintaku memanggil namanya. Mati-matian aku menahan kakiku untuk mengejar lalu memeluk gadis yang teramat ku kasihi itu.

Saat sosoknya menghilang dari pandanganku, dengan serta-merta benakku dibayangi ribuan tanda tanya. Kenapa ia pergi begitu saja? Rasanya akan lebih mudah untukku kalau ia mencaci makiku, atau menamparku. Aku sudah bersiap untuk menerima semua kemarahannya.

Aku meremas rambutku. Perasaan tak berdaya yang begitu pekat melingkupiku. Sebuah kesadaran tiba-tiba menohokku. Tidak!! Ini salah!! Adalah bodoh kalau aku melepaskan Ayu sekarang. Aku harus mengejarnya dan menjelaskan semuanya.

Aku berdiri dan bersiap pergi ketika ponselku berbunyi. Di layarnya terpampang nama Clara. Seketika aku terduduk kembali dengan perasaan kalah.

***

Langit nampak membiru. Aroma laut menyeruak dibawa angin. Deru ombak terdengar samar diselingi gemerisik dedaunan. Di sinilah dulu aku melamar Ayu. Aku masih bisa mengingat dengan jelas wajah bahagianya saat memasangkan cincin berpermata biru di jari manisnya. Aku tersenyum simpul mengingat semua kenangan manis itu.

Sejak aku melepaskannya, untuk waktu yang lama aku terus menyesali keputusanku. Meski setiap harinya aku terus meyakinakan diriku bahwa ini semua yang terbaik yang bisa ku lakukan untuk Ayu, aku terus merindukannya. Hingga rasa-rasanya hatiku menjadi dingin.

Tapi kini semua telah berlalu. Aku bisa memulai kembali awal yang baru bersama Ayu. Aku membuka pintu Fortuner putihku. Mengeluarkan buket mawar putih besar, bunga favorit Ayu. 


Pernah suatu ketika aku memberinya mawar merah, sebagai perlambang cinta. Bunga itu berakhir di tangan seorang nenek tua yang berpapasan dengan kami di jalan. 

“Lain kali bawakan aku mawar putih saja”, katanya riang sembari mengerlingkan sebelah matanya.

“Kau yakin mawar putih itu tak kan berakhir di tangan orang asing?” tanyaku sangsi.

Ayu tertawa renyah.

“Mhmm.. aku tak janji.” Sahutnya usil membuatku gemas sekali padanya.

Aku tersenyum lagi. Akhirnya yang ku tunggu-tunggu pun datang. Angin mempermainkan rambutnya yang dibiarkannya tergerai.

“Maaf harus jauh-jauh memintamu ke sini.” kataku membuka percakapan.

Ayu hanya ternyum.

“Ini untukmu.” Kataku lagi sembari memberikan buket mawar putihnya.

“Terima kasih mas.” Jawabnya pelan, terlihat ragu.

Aku menghela napas. Ini tidak mudah. Kami diliputi kecanggungan yang aneh.

“Apa kau sudah makan? Haruskah kita pergi dari sini dan mencari makan? Kau suka seafood kan?” tanyaku lagi memecah jeda.

“Aku tidak lapar mas.. maaf, tapi apa yang ingin mas bicarakan hingga memintaku ke sini?”

Aku menghela napas lagi.kali ini lebih berat.

“Aku ingin kita memulainya lagi dari awal Yu..”

Ayu terhenyak. Lalu mematung. Aku merasa sangat frustasi dengan situasi ini. Dengan diamnya Ayu.

“Ba.. bagaimana bisa mas memintaku kembali setelah apa yang mas lakukan ke aku???” jawab Ayu terbata. Matanya mulai berkaca-kaca. 

“Ayu tolong, dengarkan penjelasanku dulu. Aku bisa jelasin semuanya!”

“Penjelasan?? Apa yang membuat mas berpikir aku mau mendengar penjelasan mas itu? Aku bertanya-tanya mengapa aku tak bisa menikah dengan mas. Dengan bodohnya aku masih berusaha untuk memahamimu mas. Tapi tidak ada satu alasan pun yang bisa membuatku paham. Lalu aku mulai menghibur diriku sendiri. Mungkin mas menderita sebuah penyakit parah, jadi mas nggak mau menyusahkanku. Ya, rasanya itulah satu-satunya alasan yang bisa membuatku bertahan. Tapi sekarang mas muncul seolah tak terjadi apapun???” tanyanya histeris.

“Aku dijebak Yu!!” kataku tercekat.

Ayu diam. Aku pun menceritakan padanya tentang Clara yang menghubungiku seminggu sebelum pernikahan kami. Bahwa Clara mengatakan tengah mengandung anakku. Bahwa ia meminta pertanggung jawabanku. Clara juga mengatakan bahwa aku menidurinya setelah pesta pembukaan kantor cabang di Surabaya. 

“Ku akui saat itu aku mabuk, tapi aku tak pernah merasa melakukannya. Karenanya aku meminta tes DNA tapi itu hanya bisa dilakukan setelah bayinya lahir. Clara mengancamku akan mengacaukan pernikahan kita kalau aku tak mau bertanggung jawab.” Kataku lagi.

Ayu masih diam.

“Aku nggak mungkin membiarkan Clara merusak pernikahan kita dimana semua keluargamu berkumpul itu tidak adil untuk ibuk yang sudah ku anggap sebagai ibuku sendiri yu..” sambungku lagi.

“Jadi sekarang mas mau bilang mas melakukan itu semua demi aku??” tanya Ayu masih histeris. 

“Yu, please.. kamu tahu selam 5 tahun kita bersama, nggak pernah sekalipun aku main mata dengan perempuan yang lain. Hanya kamu satu-satunya perempuan di hatiku, dihidupku. Dan sekarang aku sudah membuktikan. Aku bukan ayah dari anak yang dilahirkan Clara.”

Untuk beberapa saat Ayu diam, lalu lirih berkata, 

“Apa mas tahu bagaimana aku hidup selama satu tahun ini? Sejak mas mengatakan alasan mas tak bisa menikahiku karena tak menyukai senyumanku, aku tak pernah lagi bisa tersenyum. Hari demi hari  aku mengutuk senyumku, menyesali diriku yang membuat mas pergi. Perempuan macam apa aku hingga senyumku pun membuatku tak cukup berharga untuk dinikahi..”

Ia mulai terisak. Kini aku yang terdiam. Tak tahu lagi harus berkata apa. Oh, betapa aku benci melihat air mata itu. Tiba-tiba aku sangat menyesali semua kata-kataku. Saat itu aku hanya asal mencari alasan untuk memutuskannya. Sesungguhnya senyumnya adalah hal yang paling ku suka darinya. Tak ku sangka kata-kata remehku itu melukainya teramat dalam. Ku pikir selama ini ia bisa menjalani hidupnya dengan baik, mengingat ia tetap pergi bekerja seperti biasa setiap harinya.

“Hari itu keputusan mas telah menjelma menjadi vonis mati untukku!” katanya lagi pelan.

Saat menatap ke kedalaman matanya, aku telah membunuh gadis itu, pikirku.



Angin sore masih berayun dengan tenang. Sebuah buket mawar putih besar tergeletak tak berpemilik.


Pulang Pisau

15 komentar:

  1. Sedih banget ceritanya, sadis juga cowoknya. Tapi nggak salah juga sih, konflik batin nya dahsyat. Suka sama bagian "selama setahun ini aku mengutuki senyum ku" kuat banget Kata katanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuaaaaahhh senangnya ada yang suka.. makasih uncle dah singgah ke sini..😆

      Hapus
  2. Balasan
    1. Apa ya...mhmm.. ini cuma beda sudut pandang sih mbak.. kalo yang sebelumnya dari sudut pandang Ayu. Lanjutan aja deh..😆

      Hapus
  3. Campakkan saja lelaki semacam itu, Mina La

    BalasHapus

10 Aktivitas Yang Bisa Kalian Coba #dirumahaja Selain Rebahan.

Hi Gaes. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga tetap   selalu sehat dan berbahagia bersama orang-oarang tersayang di rumah. Well, hari...