Pagi ini, aku
menyempatkan diri untuk mengintip salah satu akun media socialku yang memang
jarang ku jamah sebelumnya. Aku pun menemukan satu status yang menarik. Pemilik status itu adalah seorang teman yang
bekerja di salah satu instansi pemerintahan kabupaten. Ia mengeluhkan bagaimana
menyakitkannya birokrasi yang berbelit. Hingga
mengibaratkannya seperti duri dalam daging. Tak terlihat namun ketika dimakan
dan ikut tertelan, maka akan menyakiti tenggorokan. Mending kalau bisa segera
teratasi, coba kalau durinya ngeyel, katanya sih bahkan bisa mengakibatkan
kematian loh (aku lebay kayaknya ya..:D)
Status itu
kemudian dikomentari oleh seorang teman yang juga berprofesi sebagai guru
sepertiku. Baru tahu, ada birokrat yang
mengkritisi birokrasi, tulisnya. Lalu sebuah pertanyaan menggelitik benakku. Apa
yang salah ketika seorang birokrat mengkritisi birokrasi? Pada dasarnya, diakui
atau tidak birokrasi negara ini memang njelimetnya naudzubillah. Sesuatu yang
mudah bahkan bisa menjadi ruwet ketika dipertemukan dengan kata “birokrasi”.
Karenanya sangat
wajar rasanya, kalau banyak yang mengeluhkan tentang hal itu. Tak terlepas
apakah dia seorang birokrat atau bukan. Ya iyalah please deh. Ketika ia tak
lagi di kantornya kan dia jadi anggota masyarakat biasa? Iya kan?
Kemudian ada yang
berkomentar sinis, seorang ASN itu hidup dari pemerintah. Tidak sepantasnya ia
menjelek-jelekan pemerintahan tempat dimana ia mendapatkan penghidupan. Tidak
etis, katanya.
Padahal menurutku
pribadi, mengkritisi tidak selalu sama dengan “menjelek-jelekan”. Jika terjadi
ketimpangan, kesalahan, ketidak jujuran dalam sistem, apakah kita harus diam?
Pura-pura menutup mata? Sungguh telah mati
nurani kita jika demikian adanya.
Seorang guru yang
mengkritisi seorang praktisi pendidikan, apakah salah? Seorang supir angkutan
umum yang mengkritisi mobil yang dikendarainya, apakah salah? Tentunya semua
sesuai porsinya.
Jika dengan
mengkritisi bisa menjadi masukan kepada instansi tersebut yang dapat merubah
instansi tersebut menjadi lebih baik lagi, kenapa tidak?
Pulang Pisau

kritik untuk membangun lebih baik, tak apa-apalah
BalasHapusSetuju mbak!!!😆
Hapusbnar juga, kadang teman sendiri dipandang tidak pantas mengkritik :D
BalasHapusIya ya.. padahal kan kita nggak niat jahat..
HapusSetuju Mina La... Negara kita punya undang2 tentang bebas berpendapat kan, jd silahkan buka suara :)
BalasHapusUndang-undang juga bisa dimodfikasi ci..😐
Hapusnegara kita memang apa apa serba ruwet bin njelimet...
BalasHapusPernah punya pengalaman ya mbak??
Hapusaih...kece kali tulisanmu, kak. Memang sudah jadi rahasia umum birokrasi indonesia seperti itu.
BalasHapusApa kau sedang mencoba merayuku wie???✋🙅katakan tidak!!😆
HapusApa kau sedang mencoba merayuku wie???✋🙅katakan tidak!!😆
Hapus