“Aku serius Alya.”
Kata laki-laki berkaca mata kelahiran Banjar itu.
Sehari setelah UTS,
kak Khalil mengajak bertemu. Kami pun sepakat bertemu di sebuah rumah makan
lesehan di pinggir siring Banjarmasin. Pemandangan sungai Martapura yang
membelah kota Banjarmasin yang sibuk sore ini, benar-benar menawan. Tapi semua
itu tak serta merta menghilangkan keterkejutanku atas pernyataan kak Khalil
barusan. Laki-laki ini seperti tahu sekali bagaimana cara mengejutkanku. Bahkan
kekhawatiranku atas nilai-nilai UTS-ku pun sempurna menghilang.
“Ta.. tapi kenapa
kak?” kataku terbata. Kecerdasanku seperti lumpuh. Segera kuseruput jus
alpukatku yang tersisa separuh.
Laki-laki itu
mengerenyitkan keningnya. Melihatnya demikian, membuat pikiranku sedikit
jernih. Atau mungkin akibat jusnya? Ah, sudahlah.
“Kita sudah lama
saling mengenal kak. Tapi selama ini kak Khalil nggak pernah menyatakan
perasaan kak Khalil ke aku. Makanya ku pikir pesan-pesan kak Khalil selama ini
hanya becandaan.”
Kak Khalil
menatapku tajam. Hatiku berdesir.
“Aku itu nyari
istri bukan pacar, Alya. Saat ini aku sudah siap untuk membangun sebuah
keluarga. Dan aku mau kamu.”
“Tapi.. kak
Khalil tahu kan? Aku punya pacar!”kataku tertahan,nyaris histeris. Laki-laki
dihadapanku itu masih setia memasang wajah datarnya.
“Putuskan dia. Dan
menikahlah denganku.”
“Ini nggak adil
untuk mas Prabu kak.”jawabku miris.
“Lihat aku!! Katakan
kalau kamu nggak suka aku dan nggak mau menjadi istriku.”
Aku terdiam. Hatiku meloncat. Berdegum tak
beraturan. Aku curiga jangan-jangan kak Khalil bisa mendengarnya.Otakku menyerah
berpikir jawaban yang logis atas pemintaan kak Khalil itu. Untung saja suara merdu
Jessie J memecah keheningan diantara kami. Panggilan masuk. Ponselku. Alih-alih
menerima panggilan itu, aku justru segera mematikan nada deringnya demi melihat
nama mas Prabu tertera di layar ponsel.
“Siapa? Kenapa nggak diangkat?”
“Orang missed
called.”jawabku cepat. Aduh, Alyaa kenapa harus bohong sih? Aku mengecam diri
sendiri.
“Pasti Prabu ya?”
selidik Kak Khalil.
Aku diam. Kak
Khalil menghela napas. Lalu berkata, “aku akan
memberimu waktu untuk memikirkan jawabannya.”
Terbayang di benakku senyum jenaka mas Prabu. Mas Prabu yang ramah, yang selalu membantuku,
yang tak pernah bosan mendengarkan segala cerita konyolku, yang tak lari meski
aku sering merajuk tak jelas. Seperti sebuah film cepat, seluruh kebersamaan
kami tiga tahun terakhir ini pun berseliweran di kepalaku. Mana bisa aku
menyakiti hatinya begitu saja? Sedangkan kak Khalil, bukankah selama ini ia hanya
angin? Yang bertiup diantara hiruk pikuk duniaku? Aku tak pernah bisa menebak jalan pikirannya.
“Nggak, aku akan
memberikan jawabannya sekarang kak.”
Ponselku kembali
berdering. Nama yang tertera di layar masih sama.
![]() |
| Taman Siring Banjarmasin |
***
Palangkaraya
5 Mei 2016
#OneDayOnePost


Hayoo,.pilih mana
BalasHapusAku pilih Prabu mba Lisa.
BalasHapusBingung juga ya pilih yg mana?
BalasHapusklo ceritanya begini...
BalasHapussy nebak, nanti pilihannya ke Khalil..
*sok tahu