“Jadi kamu
menolaknya Al?” tanya Lisa. Mata cantiknya melebar. Suaranya penuh
keterkejutan.
Aku hanya
mengangguk sembari mengalihakan pandanganku pada kesibukan bandara Syamsudin
Noor yang nampak riuh rendah dipenuhi
orang-orang yang beraneka warna. Hilir
mudik dengan menenteng bawaannya masing-masing. Aku pensaran sekali dengan apa
yang sedang mereka pikirkan. Apa yang sedang orang-orang itu rasakan? Kebahagiaan
kah? Kerinduan kah? Sebuah masalah kah? Atau sebuah kesunyian yang menawan
hati?
“Kenapa??” tanya
Lisa cepat. Ku rasa penerbangan selama 2 jam dari Pontianak tempatnya menghabiskan
waktu selama sebulan terakhir ini tak cukup ampuh untuk mengurangi watak tidak
sabarannya dalam menghadapi sesuatu yang membuatnya penasaran.
Aku masih diam. Sibuk
dengan es teh manisku yang tersisa setengah. Seperti hari-hari sebelumnya,
matahari siang ini masih setia bersinar dengan teriknya. Aku nyaris
bertanya-tanya. Apakah ini semacam kutukan untuk wilayah yang langsung berdampingan
mesra dengan garis ekuator Bumi, seperti pulau Kalimantan ini? Apapun itu, kabar
baiknya, segelas es teh manis selalu menjadi penawar dahaga terbaik untukku
melawan kutukan tersebut.
“Alyaaaaa” kata
Lisa tertahan. Gemas dengan sikap diamku.
Aku menghembuskan
napas perlahan.
“Bukannya memang
sudah seharusnya begitu?” tanyaku sembari menatap mata cantik Lisa.
“Itu bukan sebuah
jawaban Alya!”
Ah, sekarang aku
menyesal mengiyakan permintaannya untuk mampir ke cafe ini. Tadinya Lisa bilang
ia sedang dalam kondisi sangat kelaparan hingga percuma saja untuk membujuknya
segera pulang. Ia bersikeras ingin makan di cafe minimalis yang terkenal dengan
kelezatan sea food-nya ini. Sebagai sahabat
yang baik yang dipercaya untuk menjemputnya, aku pun menurut. Seharusnya aku
tahu Lisa akan mengejar-ngejarku dengan pertanyaan semacam ini, setelah semalam saat ia menelponku, aku
menceritakan hasil pertemuanku dengan kak Khalil di restoran lesehan di pinggir
Siring itu. Sekarang, lihatlah, nasi dan cumi goreng tepung telur asinnya, hampir-hampir
tak disentuhnya sejak mbak-mbak pramusaji mengantarkannya beberapa menit yang
lalu.
“Hanya saja ku
rasa nggak adil untuk mas Prabu kalau aku nekad menerima pinangan kak Khalil.” Jawabku
akhirnya. Berbeda dengan Asti yang percaya setiap warga negara berhak atas
privasi, Lisa adalah tipe sahabat yang tidak akan pernah berhenti sampai rasa
ingin tahunya terpuaskan. Jadi, percuma saja menutupi sesuatu darinya. Untungnya
ia adalah seorang penjaga rahasia yang sangat hebat.
“Owh, please Alya. Bukankah kau mencintai guru matematika itu?”
Aku terperangah.
***
Palangkaraya
6 Mei 2016
#OneDayOnePost

Mantapkan hati. Kakang Prabu.
BalasHapusWaduh, akhirnya milih siapa tuh?
BalasHapusAyo..istikharoh ya
BalasHapusCieee ada yang mencintai gurunya
BalasHapusSemedi dulu sana...
BalasHapusendingx sm syp yah..
BalasHapuskekx sm pak guru..:)