Beberapa hari
kemudian saat Kriss hendak bersantai di atap sekolah ia kembali menemukan gadis
ringkih pendiam itu. Kali ini Alesha mengangkat rok panjang abu-abunya hingga
selutut. Nampak bilur-bilur luka di betisnya. Wajah alesha terlihat menahan
sakit. Apa yang dilakukan gadis ringkih itu? Apa dia berpikir untuk
mengeringkan lukanya dengan mengangkat roknya seperti itu?, pikir Kriss heran.
Kriss pun urung melanjutkan langkahnya. Ia kembali turun, menuju UKS. Hahh..
Kriss, seharusnya kau acuhkan saja gadis penuh luka itu, rutuknya dalam hati.
Setelah merayu,
memohon, dan menjelaskan bahwa ia menemukan kucing yang terluka di atap dan
hendak mengobatinya akhirnnya guru penjaga pun mengijinkan Kriss meminjam kotak
P3K. Kriss pun segera meninggalkan ruangan yang didominasi wrna putih itu meski
tahu guru penjaganya masih menatapnya dengan tatapan aneh.
Alesha terkejut
mengetahui tiba-tiba ada langkah kaki setengah tergesa di belakangnya.
Cepat-cepat ia menurunkan roknya dan berbalik. Ia pun lebih terkejut lagi saat
mendapati pemilik langkah kaki itu adalah anggota OSIS yang sebelumnya
mengobati lengannya.
“Kenapa
ekspresimu selalu seperti itu saat bertemu denganku?” kedua alis Kriss bertaut,
nampak tak suka.
Alesha menunduk
sembari mulai menggigiti bibirnya. Kriss menghela napas panjang.
“Angkat rokmu.”
Alesha menggeleng
kuat.
“Kalau kau
menolak untuk ku obati, aku akan meminta guru penjaga yang mengobatimu.”kata
Kriss kemudian.
Alesha panik.
“Jangan! Aku tidak apa-apa. Aku
baik-baik saja.”
“Waah, ternyata
kau bisa bicara.” Kata Kriss takjub.
Alesha kembali
menunduk dalam-dalam.
Kriss menghela
napas panjang.
“Kau sedang tidak
berada dalam posisi tawar-menawar denganku. Pilihannya hanya dua. Aku yang
mengobatimu, atau aku akan meminta guru penjaga menyeretmu ke rumah sakit kalau
perlu.” Ancam Kriss kesal.
Alesha tersentak,
kemudian mendongakkan kepalanya perlahan. Tubuh Kriss yang menjulang setinggi
179 cm, membuat Alesha yang bertubuh mungil harus mendongak untuk melihat mata bening
kakak kelasnya itu.
Dengan mata
berkaca-kaca ia pun mengangkat roknya perlahan. Sepertinya Ia mengenakan
seragam berlengan panjang dan rok panjang itu hanya untuk menutupi
luka-lukanya, batin Kriss.
“Aku memintamu
mengangkat rokmu untuk mengobatimu. Bukannya mau membunuhmu!” kata Kriss lagi terdengar
lebih kesal. Tapi tangannya tetap terampil memberikan pengobatan.
“Kenapa kau tak
bertanya?” tanya Alesha lirih.
Sejenak
tangan Kriss terhenti.
“Kalau
kau mau menceritakannya, aku akan mendengarkan. Ku pikir kau pasti punya alasan
yang kuat mengapa kau bahkan menahan air matamu di tempat sepi seperti ini.”
Setelah terdiam
beberapa saat, Alesha angkat bicara, lirih.
“Itu Mamahku... Yang
melakukannya.”
Kriss
mendongakkan kepalanya, kaget. Satu tetes air mata Alesha jatuh tepat di
pipinya.
“Oh, maafkan
aku..” katanya lagi cepat-cepat menghapus air matanya.
Kini Kriss pun mengerti.
Mengapa gadis kurus ringkih itu mati-matian menahan luka nya. Luka yang dibuat
oleh perempuan yang sangat dicintai Alesha, dan seharusnya menjadi perempuan
pertama yang juga mencintai Alesha di atas segalanya di dunia ini. Perempuan
yang konon menjadi kewajiban bagi seluruh anak untuk menghormatinya tiga kali
lebih baik dari ayah mereka.
“Wah, bagaimana
ini kau telah membagi rahasiamu denganku. Kau harus melakukan sesuatu agar aku
tak menyebarkannya.” Kata Kriss dengan tengil.
Alesha
mengerenyitkan dahinya. Apa aku salah mengira dia teman baik?, pikir Alesha.
“Apa maksudmu? Ku
pikir kita..” Alesha bingung.
“Kita?? Kenapa
anak perempuan suka sekali mendramatisir sesuatu?”
Tanpa sadar Alesha
mengigiti bibirnya. “Apa yang kau ingin aku lakukan?”
***
to be continued again..^_^
Pulang Pisau
Kangen tulisan sampean mbk Sas.
BalasHapusKeren ini, harus baca part sebelumnya
Cieee.. cieeee aku dikangenin #loh..#plaaakk😂😂😂
HapusIya, saya juga belum baca awalnya. Penasaran.
BalasHapusMonggo ke postingan sebelumnya...😁
Hapuskriss..nolongnya harus ikhlas..
BalasHapusTuh Kriss dengerin apa kata bu guru..😒#ntar kumarahin si Krissnya mbak..😂
Hapus