Sabtu, 08 Oktober 2016

Pendar Luka



“Kamu tahu pasti sejak SMA, Alesha sangat ingin menjadi seorang pramugari. Terbang ke berbagai negara adalah impiannya. Tapi demi kamu Kris.. demi kamu, dia mengabaikan mimpi-mimpinya. Dia kubur dalam-dalam ambisinya itu!!” kata Rere nyaris histeris.

“Re, jangan memojokkan posisiku. Nggak pernah sekalipun aku meminta Alesha untuk berhenti mengejar mimpinya menjadi pramugari!” Kata laki-laki bertubuh tegap berwajah teduh itu dengan tenang.

Siang itu Kriss berpikir ia tak kan bisa makan apapun atau mengerjakan apapun setelah Rere mendatanginya dan mececarnya atas keputusan Alesha yang membatalkan keinginannya untuk menjadi pramugari. Karenanya, setelah mendelegasikan beberapa tugas dan meminta penjadwalan ulang untuk semua meeting dan janji pada sekretarisnya, ia pun memutuskan berdiam diri saja di ruang kerjanya yang tertata apik dengan desain minimalis itu. Kriss berdiri di depan sebuah dinding kaca yang menampilkan landscape ibukota yang menakjubkan.  Ruangannya yang berada di lantai 11 itu memungkinkannya untuk melihat hampir seluruh sisi kota. Biasanya melihat pemandangan berlatar langit biru seperti itu mampu menenangkan pikirannya. Mengurai kegelisahannya.

Namun berbeda dengan siang ini. Nama gadis itu entah bagaimana selalu berhasil membuat hatinya tak menentu. Pikiran Kriss melayang, meniti sisi-sisi kenangan masa lalunya. Saat pertama kali ia bertemu Alesha. 

Saat itu, di belakang gedung olahraga, di bawah pohon Akasia yang rimbun,  Kriss secara tak sengaja bertemu Alesha. Gadis itu nampak meringis menahan sakit. Alesha menggulung lengan bajunya perlahan kemudian meniup-niup lukanya. Berharap rasa sakitnya sedikit berkurang. Alesha tak menyadari mata teduh Kriss yang memperhatikannya dengan seksama. 
 
Itu luka bekas sudutan rokok, pikir Kriss. Kulit putih Alesha melepuh berbentuk lingkaran-lingkaran di beberapa tempat. Kriss mengerenyitkan keningnya. Bagaimana bisa gadis kurus yang nampak ringkih itu tak menangis? Bahkan setelah menerima semua luka itu? 

Kriss pun membatalakan niatnya. Ia berbalik arah, segera menuju ruang  UKS. Ia meminjam peralatan P3K sembari mengarang cerita yang masuk akal tentang mengapa ia harus membawa peralatan tersebut, kepada guru penjaga. Saat Kris kembali ke belakang sekolah, gadis yang belakangan ia ketahui namanya Alesha itu masih duduk sembari memegangi lengannya. 

Alesha nampak terkejut saat Kriss mendekat. Cepat-cepat Alesha mengulurkan lengan bajunya. Berusaha menutupi luka-lukanya. Dari lambang di seragam yang dikenakan Kris, Alesha tahu anak laki-laki berkaca mata di hadapannya itu adalah anggota OSIS. Tanpa sadar ia pun mulai menggigiti bibirnya sendiri. Otaknya bekerja cepat berusaha mencari alasan logis dibalik luka di lengannya. Tapi otaknya serasa tiba-tiba buntu. Tak mampu memikirkan sebuah alasan bahkan yang paling sederhana sekalipun. 

Kris duduk di samping Alesha, membuka kotak P3K dan tanpa mengatakan apapun, segera mengambil lengan Alesha. Untuk sesaat, Alesha reflek menarik lengannya. Tapi pegangan Kriss lebih kuat. Dengan cekatan ia pun mulai menggulung lengan baju Alesha perlahan-lahan.

“Tidak usah berpikiran macam-macam. Aku hanya ingin mengobati lukamu saja.” Kata Kriss santai.

Alesha diam, namun tatapannya masih penuh curiga. Kris menghela napas.
“Setidaknya kau pasti tahu kalau aku ini kakak kelasmu juga anggota OSIS. Jadi, berhentilah menatapku seakan aku adalah orang jahat.” 

Pipi Alesha merona. Ia pun mengalihkan pandangannya pada lengannya dan tetap diam. Kriss mengoleskan semacam salep. Alesha meringis. 

“Sakit ya? Maaf, aku akan lebih hati-hati.” 

Bel berbunyi tepat  saat Kriss menutup kotak P3K. 

“Baiklah sudah selesai, ku sarankan kau membeli salep tadi agar lukanya tak berbekas.” Kata Kris sambil berlalu. 

Gadis pendiam, pikir Kriss dalam perjalanannya mengembalikan kotak P3K ke UKS. Tiba-tiba Kriss menepuk jidatnya. Ia lupa tujuan sesungguhnya mengapa ia pergi ke belakang gedung laboratorium itu. Kriss kembali ke belakang gedung laboratorium itu dengan tergesa-gesa. Sewaktu pelajaran olahraga pagi itu, sepertinya ia menjatuhkan papan nama miliknya di lapangan sepak bola yang berhadapan langsung dengan pohon Akasia rimbun itu. Sesampainya di sana gadis pendiam itu sudah pergi. Untuk beberapa menit Kriss berkeliling mencari, namun ia tak berhasil menemukan papan namnya itu. Nampaknya aku harus membuat yang baru, pikir Kriss.


***
to be continued..^_^
 

Pulang Pisau

11 komentar:

10 Aktivitas Yang Bisa Kalian Coba #dirumahaja Selain Rebahan.

Hi Gaes. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga tetap   selalu sehat dan berbahagia bersama orang-oarang tersayang di rumah. Well, hari...