“Kamu tahu pasti
sejak SMA, Alesha sangat ingin menjadi seorang pramugari. Terbang ke berbagai
negara adalah impiannya. Tapi demi kamu Kris.. demi kamu, dia mengabaikan
mimpi-mimpinya. Dia kubur dalam-dalam ambisinya itu!!” kata Rere nyaris
histeris.
“Re, jangan
memojokkan posisiku. Nggak pernah sekalipun aku meminta Alesha untuk berhenti
mengejar mimpinya menjadi pramugari!” Kata laki-laki bertubuh tegap berwajah
teduh itu dengan tenang.
Siang itu Kriss
berpikir ia tak kan bisa makan apapun atau mengerjakan apapun setelah Rere
mendatanginya dan mececarnya atas keputusan Alesha yang membatalkan
keinginannya untuk menjadi pramugari. Karenanya, setelah mendelegasikan
beberapa tugas dan meminta penjadwalan ulang untuk semua meeting dan janji pada
sekretarisnya, ia pun memutuskan berdiam diri saja di ruang kerjanya yang
tertata apik dengan desain minimalis itu. Kriss berdiri di depan sebuah dinding
kaca yang menampilkan landscape ibukota yang menakjubkan. Ruangannya yang berada di lantai 11 itu
memungkinkannya untuk melihat hampir seluruh sisi kota. Biasanya melihat
pemandangan berlatar langit biru seperti itu mampu menenangkan pikirannya.
Mengurai kegelisahannya.
Namun berbeda
dengan siang ini. Nama gadis itu entah bagaimana selalu berhasil membuat
hatinya tak menentu. Pikiran Kriss melayang, meniti sisi-sisi kenangan masa
lalunya. Saat pertama kali ia bertemu Alesha.
Saat itu, di belakang gedung
olahraga, di bawah pohon Akasia yang rimbun, Kriss secara tak sengaja bertemu Alesha. Gadis
itu nampak meringis menahan sakit. Alesha menggulung lengan bajunya perlahan
kemudian meniup-niup lukanya. Berharap rasa sakitnya sedikit berkurang. Alesha
tak menyadari mata teduh Kriss yang memperhatikannya dengan seksama.
Itu luka bekas
sudutan rokok, pikir Kriss. Kulit putih Alesha melepuh berbentuk
lingkaran-lingkaran di beberapa tempat. Kriss mengerenyitkan keningnya. Bagaimana
bisa gadis kurus yang nampak ringkih itu tak menangis? Bahkan setelah menerima
semua luka itu?
Kriss pun
membatalakan niatnya. Ia berbalik arah, segera menuju ruang UKS. Ia meminjam peralatan P3K sembari
mengarang cerita yang masuk akal tentang mengapa ia harus membawa peralatan
tersebut, kepada guru penjaga. Saat Kris kembali ke belakang sekolah, gadis
yang belakangan ia ketahui namanya Alesha itu masih duduk sembari memegangi
lengannya.
Alesha nampak
terkejut saat Kriss mendekat. Cepat-cepat Alesha mengulurkan lengan bajunya.
Berusaha menutupi luka-lukanya. Dari lambang di seragam yang dikenakan Kris,
Alesha tahu anak laki-laki berkaca mata di hadapannya itu adalah anggota OSIS.
Tanpa sadar ia pun mulai menggigiti bibirnya sendiri. Otaknya bekerja cepat
berusaha mencari alasan logis dibalik luka di lengannya. Tapi otaknya serasa
tiba-tiba buntu. Tak mampu memikirkan sebuah alasan bahkan yang paling sederhana
sekalipun.
Kris duduk di
samping Alesha, membuka kotak P3K dan tanpa mengatakan apapun, segera mengambil
lengan Alesha. Untuk sesaat, Alesha reflek menarik lengannya. Tapi pegangan
Kriss lebih kuat. Dengan cekatan ia pun mulai menggulung lengan baju Alesha
perlahan-lahan.
“Tidak usah
berpikiran macam-macam. Aku hanya ingin mengobati lukamu saja.” Kata Kriss
santai.
Alesha diam,
namun tatapannya masih penuh curiga. Kris menghela napas.
“Setidaknya kau
pasti tahu kalau aku ini kakak kelasmu juga anggota OSIS. Jadi, berhentilah
menatapku seakan aku adalah orang jahat.”
Pipi Alesha
merona. Ia pun mengalihkan pandangannya pada lengannya dan tetap diam. Kriss
mengoleskan semacam salep. Alesha meringis.
“Sakit ya? Maaf,
aku akan lebih hati-hati.”
Bel berbunyi
tepat saat Kriss menutup kotak P3K.
“Baiklah sudah
selesai, ku sarankan kau membeli salep tadi agar lukanya tak berbekas.” Kata
Kris sambil berlalu.
Gadis pendiam,
pikir Kriss dalam perjalanannya mengembalikan kotak P3K ke UKS. Tiba-tiba Kriss
menepuk jidatnya. Ia lupa tujuan sesungguhnya mengapa ia pergi ke belakang
gedung laboratorium itu. Kriss kembali ke belakang gedung laboratorium itu
dengan tergesa-gesa. Sewaktu pelajaran olahraga pagi itu, sepertinya ia
menjatuhkan papan nama miliknya di lapangan sepak bola yang berhadapan langsung
dengan pohon Akasia rimbun itu. Sesampainya di sana gadis pendiam itu sudah
pergi. Untuk beberapa menit Kriss berkeliling mencari, namun ia tak berhasil
menemukan papan namnya itu. Nampaknya aku harus membuat yang baru, pikir Kriss.
***
to be continued..^_^
Pulang Pisau

Aku menunggu Mina La...
BalasHapusopo seng mbok enteni mina ci?
Hapusdih nyebelin pake bersambung sgala
HapusYa salaaammm aku dimarahin..😂😂😂
HapusKrisstoper kolombus ini mbak, hehe
BalasHapusTapi dr gambarnya saya curiga ini bunga krisan hehe
Kok krisstoper kolombus mbak? Itu bukannya nama penjelajah jaman dulu yang nemu benua amerika itu ya?😂
HapusDi tunggu kelanjutannya mbak cantik
BalasHapus😍😍😍makasih mbak..
HapusTrue story kah ini mbk Sas??
BalasHapusHehehe nggak mas.. ini mah hasil rekaanku doang..
HapusBaca maraton dari sini... cihuy.
BalasHapus