Senin, 28 November 2016

Laki-laki Berselimut Hujan



Sore ini aku sedang dalam perjalanan pulang. Ku kendarai Vario merahku dengan kecepatan sedang. Lalu aku pun menyadari langit telah tertutup sempurna oleh awan hitam yang bergumpal-gumpal. Tak ada lagi sinar matahari terik siang tadi. Sepertinya sebentar lagi turun hujan, pikirku.

Dan benar saja, tak berapa lama kemudian hujan pun tumpah begitu ruahnya. Tapi sensasi yang ku rasakan amat berbeda seperti hujan terakhir kali. Kali ini hujan yang mengguyurku itu begitu cantik. Aku bisa melihat dengan jelas pola lingkaran-lingkaran yang terbentuk saat titik air itu menyentuh aspal di depanku. Pun demikian saat ia menyentuh kulitku terasa hangat dan ramah. Tiba-tiba saja otakku dibanjiri memori-memori masa kecilku saat hujan turun. Saat pulang sekolah, bersama-sama teman lainnya aku membungkus sepatu agar tak basah lalu berlarian pulang. Tak jarang kami malah meloncati beberapa kubangan air dengan gembira. Semua begitu indah. Rasanya dunia tak sekejam sekarang ini. Ahh, cepat sekali waktu berlalu, pikirku lagi.

Tak lama aku melewati sebuah jalan yang agak menikung. Kanan kiri jalan memang tertutupi rimbunnya semak dan pohon-pohon berukuran sedang. Karenanya, aku pun memelankan laju kendaraanku. Dan, “Astaghfirullah..” pekikku kaget, reflek mencengkram rem kuat-kuat.

Aku tak begitu yakin dengan penglihatanku. Ah, mungkin karena kaca helmku yang terkena rintik hujan hingga mengaburkan pandanganku, pikirku lagi. Aku pun membuka kaca helm guna memastikan. Allahu Rabb.. itu benar-benar tubuh manusia!!! Seorang laki-laki!! Ia sempurna terlentang di tengah jalan. Lampu sein Vixion putihnya masih berkelip-kelip di pinggir bahu jalan.

Aku pun segera memarkirkan motorku. Beberapa mobil lewat, perlahan. Tapi tak berhenti. Kenapa meraka tak berhenti?,tanyaku dalam  hati.

Dengan takut-takut aku menghampiri laki-laki itu. aku tak bisa melihat wajahnya yang tertelungkup.Helm besar hitamnya juga menutupinya dengan sempurna. Sebuah tas punggung yang menggelembung masih tersampir di pundaknya. Tadinya Ia mengenakan sebuah jas hujan berwarna hijau daun pucuk pisang. Tapi kini jas hujan bahkan pakaian laki-laki itu terburai tak berbentuk, memperlihatkan beberapa bagian  dari pakaian dalam dan kakinya. Aku tak tahu bagaimana pastinya, apakah ia korban kecelakaan tunggal atau tabrak lari. Hanya ada dia dan motornya di jalan itu.

Allahu Rabb.. aku harus bagaimana, bimbangku dalam hati. Tapi aku tetap mendekatinya,

“Mas.. mas... mas ..” panggilku. Entah suaraku yang kalah oleh suara hujan maupun deru kendaraan, laki-laki itu tetap tak bergeming.

Aku berusaha memfokuskan mataku. Laki-laki itu tidak bernafas!! Aku panik. Melihat ke sekeliling. Pada mobil yang lalu lalang tapi tak mau berhenti. Beberapa orang di balik kemudi itu bahkan terlihat menatapku dengan tatapan aneh. Aku harus bagaimana??? Jeritku dalam hati.

Lalu satu kesadaran muncul di benakku. Secara logika, aku memang tak mungkin memindahkan laki-laki itu ke pinggir. Tubuh laki-laki itu cukup besar, aku tak kan sanggup memindahkannya tanpa bantuan orang lain. Tapi meski begitu aku masih bisa menutupi agar pakaian dalamnya tak lagi terlihat. Tanganku pun bergerak.

Tak disangka sebuah tangan mencegkram tanganku. Aku pun tersentak kaget. Tangan itu milik seorang bapak-bapak separuh baya.

“Jangan disentuh!”
Aku menatap bapak yang mengenakan kaos berkerah dengan pola garis-garis putih itu.
“Biarkan saja. Ada kantor polisi di dekat sini.” katanya lagi.
“Kalau begitu bagaimana kalau kita pinggirkan saja pak?” tanyaku.
“Jangan!! Ribet urusannya nanti sama polisi!” Suara bapak-bapak itu kelewat tegas di telingaku.
Aku mematung bingung.
“Sudah kamu pergi saja. Jangan di sini!” kata bapak itu lagi. Kali ini setengah menghardik.

Aku pun menjauh dengan langkah ragu-ragu, mulai menstater motorku. Bapak-bapak itu pergi ke seberang jalan. Tempat dimana sebuah rumah makan nampak ramai dipenuhi orang-orang. Beberapa truk diparkir di halamannya yang luas. Bagaimana bisa orang-orang itu diam saja melihat laki-laki itu sekarat di jalanan?? Setakut itukah mereka terhadap resiko yang akan mereka tanggung jika menolong laki-laki itu? Bagaimana jika laki-laki itu adalah ayah, atau saudara, atau bahkan anak mereka? Relakah mereka melihatnya teronggok di tengah jalan raya seperti itu?? demi Allah , sungguh aku tak rela!!! 

Hah, takut? Jangan-jangan mereka hanya tak cukup peduli untuk menolongnya, kata salah satu sisi hatiku sinis.

Astaghfirullah, lalu apa bedanya aku dengan mereka yang juga tak dapat melakukan apapun untuk menolongnya? Bantah sisi hatiku yang lain. Tak terasa aku pun menangis dengan perasaan bersalah. Aku melanjutkan perjalananku.

Ahh.. kali ini hujan terasa begitu dingin dan tajam menusuk kulitku. Apakah bahkan hujan pun mengutuk kepengecutanku?? Dimana sisa-sisa moralitasku?? Bagaimana jika di hari akhir nanti Allah bertanya mengapa aku tak menolong laki-laki itu? 

Rabbi.. ighfirli...ighfirli..ighfirli..
Semoga semua amal ibadahmu di terima dan engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah, wahai laki-laki berselimut hujan.. Aamiin..



Suatu sore di bulan November,
Pulang Pisau

4 komentar:

  1. ih ngerii...mampir pos polisi lah kak???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada sih deket situ pos polisi tapi nggak ada penghuninya.. Gara2 larangan pungli itu.. Jadi harus ke polsek terdekat yang jaraknya tidak dekat.. Hikzz...

      Hapus

10 Aktivitas Yang Bisa Kalian Coba #dirumahaja Selain Rebahan.

Hi Gaes. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga tetap   selalu sehat dan berbahagia bersama orang-oarang tersayang di rumah. Well, hari...