Jumat, 06 Mei 2016

Elegi Sunyi Sepotong Hati (5)



“Jadi kamu menolaknya Al?” tanya Lisa. Mata cantiknya melebar. Suaranya penuh keterkejutan. 


Aku hanya mengangguk sembari mengalihakan pandanganku pada kesibukan bandara Syamsudin Noor  yang nampak riuh rendah dipenuhi orang-orang  yang beraneka warna. Hilir mudik dengan menenteng bawaannya masing-masing. Aku pensaran sekali dengan apa yang sedang mereka pikirkan. Apa yang sedang orang-orang itu rasakan? Kebahagiaan kah? Kerinduan kah? Sebuah masalah kah? Atau sebuah kesunyian yang menawan hati? 


“Kenapa??” tanya Lisa cepat. Ku rasa penerbangan selama 2 jam dari Pontianak tempatnya menghabiskan waktu selama sebulan terakhir ini tak cukup ampuh untuk mengurangi watak tidak sabarannya dalam menghadapi sesuatu yang membuatnya penasaran.


Aku masih diam. Sibuk dengan es teh manisku yang tersisa setengah. Seperti hari-hari sebelumnya, matahari siang ini masih setia bersinar dengan teriknya. Aku nyaris bertanya-tanya. Apakah ini semacam kutukan untuk wilayah yang langsung berdampingan mesra dengan garis ekuator Bumi, seperti pulau Kalimantan ini? Apapun itu, kabar baiknya, segelas es teh manis selalu menjadi penawar dahaga terbaik untukku melawan kutukan tersebut. 


“Alyaaaaa” kata Lisa tertahan. Gemas dengan sikap diamku.


Aku menghembuskan napas perlahan.


“Bukannya memang sudah seharusnya begitu?” tanyaku sembari menatap mata cantik Lisa.


“Itu bukan sebuah jawaban Alya!”


Ah, sekarang aku menyesal mengiyakan permintaannya untuk mampir ke cafe ini. Tadinya Lisa bilang ia sedang dalam kondisi sangat kelaparan hingga percuma saja untuk membujuknya segera pulang. Ia bersikeras ingin makan di cafe minimalis yang terkenal dengan kelezatan sea food-nya ini. Sebagai sahabat yang baik yang dipercaya untuk menjemputnya, aku pun menurut. Seharusnya aku tahu Lisa akan mengejar-ngejarku dengan pertanyaan semacam ini, setelah semalam saat ia menelponku, aku menceritakan hasil pertemuanku dengan kak Khalil di restoran lesehan di pinggir Siring itu. Sekarang, lihatlah, nasi dan cumi goreng tepung telur asinnya, hampir-hampir tak disentuhnya sejak mbak-mbak pramusaji mengantarkannya beberapa menit yang lalu.


“Hanya saja ku rasa nggak adil untuk mas Prabu kalau aku nekad menerima pinangan kak Khalil.” Jawabku akhirnya. Berbeda dengan Asti yang percaya setiap warga negara berhak atas privasi, Lisa adalah tipe sahabat yang tidak akan pernah berhenti sampai rasa ingin tahunya terpuaskan. Jadi, percuma saja menutupi sesuatu darinya. Untungnya ia adalah seorang penjaga rahasia yang sangat hebat.


“Owh, please Alya.  Bukankah kau mencintai guru matematika itu?”


Aku terperangah.


***
Palangkaraya
6 Mei 2016
#OneDayOnePost


6 komentar:

10 Aktivitas Yang Bisa Kalian Coba #dirumahaja Selain Rebahan.

Hi Gaes. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga tetap   selalu sehat dan berbahagia bersama orang-oarang tersayang di rumah. Well, hari...