Sekerumun hati nan serakah, menguar dusta..
disebarkannya berita-berita penuh dusta..
dibisikkannya kabar-kabar penuh dusta..
Mulanya satu.. lalu menumpuk..
lalu membusuk.. lalu menusuk..
berkelindan bersama tarian kebenaran yang patah-patah
diafirmasikannya kepalsuan
pabrikasi hikayat sejarah yang sejatinya tak pernah ada..
tapi dusta tetaplah dusta..
meski mereka konversi dusta itu menjadi kebenaran
sejatinya ia tetaplah garis yang menegasi kerapuhan...
#Tantangan3RCO
#ReadingChallengeODOP
Tampilkan postingan dengan label Manuskrip Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manuskrip Puisi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 01 Maret 2019
Rabu, 18 April 2018
Dunia Monokrom
![]() | |||
| google image |
Sebelum Maret
berakhir, pada suatu senja yang pucat..
Aku tersesat..
Ketika raguku
mulai membatu, berkelindan bersama bait haiku ..
Aku terantuk..
Mendekap
keheningan dengan wagu
Lalu tergugu
mengkidungkan rindu...
Kotaku, saat
rintik hujan membasahi kening ...
Sebuah firasat
menggemakan akhir cerita,
Meskipun tadinya
kita adalah sepasang orang asing.
Yang telah
menemukan takdir yang sama ...
Lalu
seketika,duniakupun menjadi monokrom..
Jumat, 06 April 2018
Hari Minggu, Menunggu
![]() | |
| google image |
Sebuah
singularitas menari di atas hujan nan sayu
Dan aku masih menundukkan
kepalaku
Menelusuri jejak kaki tanpa nama milikmu
Yang entah
kenapa, tak pernah jemu melukiskan
melankoliku
Ya, kau
benar.. aku memang memilih untuk tidak
maju
Walaupun toh tetap
menolak menyerah terhadap rindu
Ini tidak mudah!
Bahkan dalam
ingatan yang memudar
Aku mengenang langit
biru saat kita bertemu..
Dan tersenyum
malu-malu..
Pada tatapan
sepasang mata yang merayu
Bahwa hanya untuk
bersamaku
Kau bersedia
menjadi apapun itu..
Ah, sudah hari
minggu
Rupanya aku mulai
lelah menunggu..
Jumat, 22 Desember 2017
Perempuan Tua
Adapun dia.. perempuan yang kini menua itu...
Yang menjadi langit dan bumiku
Melupakan sakit dan lukanya
Lalu membagi napas juga darahnya untukku
Serupa semesta.. serupa alam raya...
Dimaafkannya dusta-dusta yang telah ku pamerkan padanya
Lalu dia tergagap mengeja rindu...
Adapun dia.. perempuan yang kini menua itu...
Yang menjadi pagi juga malamku
Mengemas rapi tangis dan menyekap rapat ribuan kesedihannya
Serupa Matahari serupa cahaya..
Dirapalkannya do’a-do’a penuh keajaiban
Meski aku meraung mencemooh pintanya.. tetap saja
Dikenangnya kalimat-kalimat pertama yang kuucapkan dengan tidak sempurna
Adapun dia.. perempuan yang kini menua itu..
Yang menjadi samudera juga udaraku...
Menyembunyikan pahit juga kelamnya dunia di sudut matanya..
Lalu mendongengkan dunia para raja adil dari negeri-negri terjauh yang
berkabut..
Adapun dia.. perempuan tua itu..
Ibuku...
#lalu pelan ibu berkata, "nak, ibu nggak butuh puisimu.. ibu cuma mau kamu memperkenalkan calon mantu ibu.." Me : "!@#$%^&*()_ hahahahaha
Sabtu, 25 Maret 2017
Merayu Rindu
![]() |
Ketika Tuhan berfirman Kun!
Dalam keriuhan hujan yang
membasahi rumpun mawar putih di depan rumahku...
Aku masih menyimpanmu,
Meski telah ku redam dalam diam
Ku sekap dalam gelap
Bayang-bayangmu masih saja
berkeliaran di dalam kepalaku,
dalam buku-buku.
dalam lipatan-lipatan baju di
lemariku,
dalam roti keju,
juga kopi susu..
yang ku seruput perlahan pagi itu..
Bukankah sudah ku pamerkan padamu
Tuan?
Tentang kemampuan hebatku
Menyulam mimpi dan rindu
Meski kemudian serta-merta dengan
bertelanjang kaki, air mataku pun berlarian
Menguarkan aroma sendu
Mereka mengalir lalu bermuara
pada jejak-jejak yang kau tinggalkan di bandara sore itu..
Dan sekiranya malam meluruhkan
seluruh gulitanya di mataku..
Meski sebenci apapun aku terjaga
di keheningan yang larut..
Dengan tergugu, bibirku tak kuasa
berhenti merayu,
“kapan rindumu itu kembali ke
pelukanku, Tuan?”
Pulang Pisau
Sabtu, 17 Desember 2016
Helpless
Seorang gadis
kecil meringkuk gemetar di sisi jalan
Bumi luruh memutih
menguarkan sendu
Sekaligus memerah
tergenang darah
Seakan abadi,
gemuruh ledakan memeluk tubuh kecilnya dengan erat
Dimana ayahku..
dimana ibuku..
Gumamnya lirih..
Ahh..rasanya
baru semalam ia menggambar bunga-bunga
Lalu memolesnya
dengan warna-warni yang indah
Kini crayonnya
itu entah telah terkubur di mana
Ahh..
rasanya baru semalam ia tertawa
Geli karena
gelitikan ayah dan ibunya
Kini ayah
ibunya itu.. entah telah terkubur dimana
Seorang gadis
kecil meringkuk ketakutan
“Ibu,
selamatkan aku.” bisiknya
sebelum akhirnya
ia menutup kedua mata mungilnya.
Pulang Pisau
#save Aleppo
#stop genocide
Langganan:
Postingan (Atom)
10 Aktivitas Yang Bisa Kalian Coba #dirumahaja Selain Rebahan.
Hi Gaes. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga tetap selalu sehat dan berbahagia bersama orang-oarang tersayang di rumah. Well, hari...
-
Have i told you? Aku sudah membaca banyak kisah cinta. Dari kisah cinta karangan Wiliam Shakespeare yang begitu melegenda di seluruh d...
-
Adapun dia.. perempuan yang kini menua itu... Yang menjadi langit dan bumiku Melupakan sakit dan lukanya Lalu membagi napas jug...



