Tampilkan postingan dengan label My Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Diary. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 April 2018

My Daughter's Blog




Ceritanya ini tugas bonus dari RCO. Kita disuruh ngereview blog sesama anggota. And jreng.. jreng ... aku kebagian ngereview blognya anakku sendiri, Si Gadis Beralis Tebal, Sovia Triana Anggurela (please ... nggak usah nanya bapaknya siapa!T_T)

Well, awalnya anak yang suka nge-riweuhin grup itu datang kepadaku dan menceritakan banyak hal. Termasuk salah satu keinginannya untuk jadi penulis. Karena katanya dia suka menulis. 

“Ya, udah ikut ODOP aja ...” saranku padanya.

Saat itu memang ODOP sedang membuka pendaftaran untuk ODOP batch 4. Dan menurutku pribadi, ODOP merupakan wadah yang sangat tepat untuk penulis pemula macam kami ini.

“Mak daftar juga?” tanyanya.

“Nggak, ibu nggak dibolehin daftar lagi. Hikz ...” jawabku sedih.

Awalnya siswa kelas XI IPA itu banyak sekali mengeluh. Yang nggak punya blog-lah, nggak bisa bikinnya lah, takut tulisannya nggak bagus lah. Macem-macem deh pokoknya. 

“Coba aja dulu.” Kataku sedikit menantangnya.

Dan ia pun memutuskan untuk mencobanya. Setelah hari itu, ia akan datang padaku, lalu dengan semangat berapi-api menceritakan progressnya bersama ODOP.

“Emak, akhirnya aku punya blog ...”

“Mak ... aku keterima ODOP Batch 4.”

Meskipun kadang, ada hari-hari dimana anak yang suka mengikat satu rambut panjangnya itu datang ke rumah meminjam beberapa buku sambil mengeluh,

“Ibu ... gimana neh? aku belum ngerjain tantangan ...”

“Aduh Bu, nulis tiap hari itu susah ...”

Tapi yah ... pada akhirnya ia pun bisa menyelesaikan seluruh rangkaian program ODOP 4. Sekarang dia malah masuk di kabinet ODOP dan menjadi PJ RCO bareng mas Lutfi temen seangkatannya. Itu cukup membanggakan untukku. Setidaknya dia nggak berhenti di tengah jalan kek gueh ... :D #tepok jidat.

Kalo kita berkunjung ke blognya kita akan disuguhi tampilan yang cukup simpel tapi tetap terlihat manis. Berhubung yang punya blog masih abegeh, isinya juga masih seputaran dunianya. Ada beberapa tulisan pendek dan cerita bersambung yang cukup menghibur terlepas dari beberapa kekurangannya dalam menulis.

Well, ku harap dia akan terus mengasah kemampuan menulisnya. Salah satunya dengan terus mengisi blognya dengan berbagai konten positif. Semangat selalu ya nak ...

#TantanganBonusRCO
#OneDayOnePost

Minggu, 01 Januari 2017

First Day

It’s new year..
Hari ini hari pertama di tahun 2017. Dan yup.. seperti tahun-tahun semalam tak ada yang istimewa dengan hari ini. Semalam aku di rumah. Tiduran sembari melahap Dilan series yang ku dapat dari geng ODOP. Babe malah pergi ke pengajian. Karena lagi nggak enak badan, bundo tinggal di rumah dan menonton sinetron kesayangannya. (Btw, bundo marah sekali waktu ku bilang aku mau bikin gerakan mendukung Andika Kangen Band menjadi pengganti Boy di sinetron itu.. wkwkwkwkwkwk)

See, emang bener-bener nggak ada yang  istimewa. Nggak ada bakar-bakaran. Nggak ada kembang api atau petasan. Sebenarnya ada teman yang ngajak keluar sih. Ada pengajian akbar di alun-alun Kota Martapura. Tapi waktu minta izin, babe nggak ngebolehin. Karena jalanannya pasti ramai dan padat sekali. Sebagai anak yang baik lagi sholehah (aamiin..) aku menurut, lalu mengetikkan balasan dari BBM si teman tersebut.

Eh, si teman malah update status “jadi gadis pingitan. Nggak boleh keluar malem meski itu untuk pergi ke pengajian. Bagus. Cagaran larang jujuran.”

Jaaaahhhhhh...

Emang salah ya kalo aku nurut orang tua? Sejauh apapun, semandiri apapun, seapa-apapun aku tetaplah putri bapak dan ibuku. Tiba-tiba aku tak berminat lagi melanjutkan membaca Dilan.

Terlalu malas ikut ibu menonton sinetron tentang geng motor itu, aku pun memutuskan untuk membuat resolusi saja. Tidak terlalu ketat dan muluk sih. Soalnya aku ahli ngeles gitu wkwkwkwkwkwkwk. Aku hanya membuat beberapa point big goals yang ingin ku wujudkan.

Salah satunya dalam dunia literasi ini aku ingin lebih konsisten ngisi blogku ini, (ya elah lia.. nggak malu apa sama mbak denik yang semalam full nulis?hahaha.. *nangis guling-guling) dan yup, tentu saja punya karya nyata. Sebuah buku yang ku tulis sendiri. Semoga terwujud. Aamiin..
Ahh.. ayo kita wujudkan mimpi-mimpi kita...^_^
Salam..

Banjarbaru
Kamarku yang berwarna ungu

Sabtu, 17 Desember 2016

Remed



Di sekolahku tidak ada guru PAI pasca pak H (guru agama sebelumnya) pindah ke Pulang Pisau Kota. Karenanya Kepsek pun mengiyakan saat guru PAI SMP setempat datang dan meminta ijin untuk mengajar PAI demi menambah jam agar bisa dapat sertifikasi. Well, nggak mungkin kan PAI diajarkan oleh guru agama lain?

Tapi tahun ini berbeda. Guru PAI itu meminta tolong kepadaku untuk mengambil 2 kelas. 

“Capek Ia kalo aku ngambil semua kelas. Lagian jamku sudah cukup. Kam ja lah yang kelas XI IPA lawan kelas XI IPS.” Kata beliau kepadaku dengan logat Banjar yang kental.

Aku mengiyakan. Karena memang kasian sama anak-anak juga kalau sampai pelajaran mereka keteter. Apalagi ini pelajaran agama. Karenanya, satu semester ini resmilah aku mengajar PAI untuk dua kelas itu.

Dan setelah memeriksa hasil ulangan semester anak-anak kemarin, ternyata hasilnya tidak begitu bagus. Ada beberapa anak yang harus remed. Ini agak mengecewakan mengingat  aku sudah membuat soal sesuai dengan yang kami pelajari selama ini. Keesokan harinya aku pun memanggil anak-anak itu.

Aku menjelaskan bahwa nilai mereka belum mencukupi KKM dan karenanya mereka harus remed. Aku menjelaskan tugas remed mereka dan yup.. tentu saja mereka mengeluh!! Bukankah sudah menjadi tugas seorang siswa untuk mengeluhkan pelajaran mereka??:D  Tugas yang ku berikan memang cukup merepotkan tapi menurutku itu sepadan kok... hehehe

Aku kembali memberi mereka pengertian ketika tiba-tiba seorang anak nyeletuk,
“Ibu, waktu kami kelas X kemaren, nilai kami tetap bagus bahkan meskipun ibunya jarang ngajar kami.”

Aku terkejut dengan sikap kritis anakku yang membandingkan sistem penilaianku dengan sistem penilaian guru Agama sebelumnya itu. Ya Salam.. perasaan jaman aku Aliyah dulu mana berani aku mempertanyakan sistem penilaian guruku? T_T

Aku menjawab dengan hati-hati.

“Nak, Bu Lia dengan beliau kan beda sudah pasti pengajarannya berbeda. Tapi maaf ibu nggak bisa ngasih kalian nilai tinggi begitu saja. Jadi tolong remednya dikerjakan dan kumpul besok ya?”

Sengaja aku tak membahas lebih lanjut tentang guru  PAI mereka yang jarang masuk itu. Biarlah itu menjadi urusan beliau sama Yang Diatas. Soalnya aku dah nyoba negur (dengan halus loh ya..:)), nelponin beliau tiap kali jadwal beliau ada tapi tetep aja nggak ada perubahan yang berarti. Jadi capek sendiri akunya. Hikz..

Anak-anak sih nampak belum puas dengan jawabanku. Dan mereka masih berupaya untuk bernegoisasi tentang tugas tersebut (anak-anakku itu kadang kegigihannya keren sekali menyangkut urusan mengurangi tugas..:D). Untung saja aku diselamatkan lonceng tanda masuk. Kalau tidak bisa jadi aku akan termakan rayuan mereka dan mengurangi tugas mereka.:D  Alhamdulillah.. 



Pulang Pisau

Jumat, 16 Desember 2016

Sahabat Mah Gitu..



Semalam seorang teman menghubungiku via BBM. Dia meminta izin untuk memberikan pin bbmku pada seorang teman lama.

“Masih inget kan Ia sama Bunga(sebut saja demikian)? Sebenarnya sudah lama dia minta, tapi aku nggak berani ngasih, ku bilang bapadah ae dulu lawan Lianya ”

“Iya aku inget kok.. nggak papa kassih aja.” Kataku 

Karena memang sudah lama aku nggak ketemu sama Bunga. Waktu kuliah masuk semester 4 dia merasa tidak cocok masuk jurusan Bimbingan Konseling jadi dia memutuskan untuk pindah dan mengambil jurusan yang disukainya, PGSD. Meski kami masih satu kota tapi sepertinya kami memang tidak pernah sempat bertemu kembali, sibuk dengan kehidupan kami masing-masing.

Tak berapa lama Bunga pun meng-invite-ku. Segera setelah ku approve dia mulai ngechat. Pertama masih enak dia menanyakan kabar. Aku pun demikian. Kalimat selanjutnya mulai bikin kening berkerut.

“Sudah jadi PNS ya sekarang..”

Mungkin dia hanya ikut senang karena aku lulus tes kemaren kali ya, pikirku. Tapi kalimat itu sukses bikin aku bingung mau nanya apa lagi sama dia. Padahal aku pengen banget kami saling bertukar cerita layaknya teman lama yang baru saja bertemu kembali. Ketika aku masih mikir-mikir jawaban yang hendak ku ketikkan, kembali chat darinya masuk.

“Berapa sudah anak?”

Ya ampun.. aku langsung yang kek.. ini anak kenapa ya?  Ku jawab saja, “Belum kuhitung. Mungkin sekitar 160-an”

Ting Tung..pesannya masuk.

“Mbak lia sudah menikah kan?  Maksudku anaknya mbak Lia, baru 1 atau sudah 2?”

Ahh.. aku mulai sebel. Please deh dia kan berteman denganku di Facebook. Masa iya dia bener-bener nggak tau?

“Aku belum menikah Bunga..” jawabku

“Loh, masa sih? Ku pikir mbak Lia sudah nikah sama yang kemarin dulu itu loh, siapa sih namanya tuh.. aduh aku lupa.”

Aaaaargghh... enough! Dia sukses bikin aku gedek setengah mati. Ku abaikan chatnya. Memilih untuk mendiamkan pertanyaannya.

Ting tung.. sebuah pesan masuk lagi.

“Oh ya mbak Lia ngekost atau nyewa rumah di Kal-Teng sana?” dari Bunga.

Mungkin dia ngerasa nggak enak kali ya karena tau chat terakhirnya ku abaikan. Akhirnya aku pun mengetikkan jawabanku.

“Aku di rumah dinas Bunga.”

Ting Tung.. 

“Udah lama kah mbak di sana?”
Belum selesai ku ketikkan jawabannya, sebuah pesan masuk

“Beneran deh mbak ku pikir mbak Lia udah nikah sama mas ******************* . Bener itu  kan namanya? Bukannya udah tunangan kan? Kok bisa nggak jadi nikah sih?”

Allah Rabb.. dia sebut nama lengkap lagi... ini anak bener-bener deh. Sudah selesai!!! Aku nggak akan balas chatnya lagi, tekadku. Saking sebelnya aku pun bercerita dengan seorang sahabat.

“Lha lagian kenapa kamu bisa temenan sama dia? Kamu kayak nggak tau anaknya aja. Kalo dia minta pinku jangan dikasih!!!” jawabnya.

Aku pun bertanya,”memangnya dia kenapa?”

“Dia anaknya sopan tapi kurang ajar!!” 

Aku tertawa melihat jawabannya. Padahal yang dibikin sebel aku. Tapi sepertinya sahabatku itu juga merasa jengkel.

Ahh..sahabat mah gitu.. :D



Pulang Pisau

Senin, 28 November 2016

Laki-laki Berselimut Hujan



Sore ini aku sedang dalam perjalanan pulang. Ku kendarai Vario merahku dengan kecepatan sedang. Lalu aku pun menyadari langit telah tertutup sempurna oleh awan hitam yang bergumpal-gumpal. Tak ada lagi sinar matahari terik siang tadi. Sepertinya sebentar lagi turun hujan, pikirku.

Dan benar saja, tak berapa lama kemudian hujan pun tumpah begitu ruahnya. Tapi sensasi yang ku rasakan amat berbeda seperti hujan terakhir kali. Kali ini hujan yang mengguyurku itu begitu cantik. Aku bisa melihat dengan jelas pola lingkaran-lingkaran yang terbentuk saat titik air itu menyentuh aspal di depanku. Pun demikian saat ia menyentuh kulitku terasa hangat dan ramah. Tiba-tiba saja otakku dibanjiri memori-memori masa kecilku saat hujan turun. Saat pulang sekolah, bersama-sama teman lainnya aku membungkus sepatu agar tak basah lalu berlarian pulang. Tak jarang kami malah meloncati beberapa kubangan air dengan gembira. Semua begitu indah. Rasanya dunia tak sekejam sekarang ini. Ahh, cepat sekali waktu berlalu, pikirku lagi.

Tak lama aku melewati sebuah jalan yang agak menikung. Kanan kiri jalan memang tertutupi rimbunnya semak dan pohon-pohon berukuran sedang. Karenanya, aku pun memelankan laju kendaraanku. Dan, “Astaghfirullah..” pekikku kaget, reflek mencengkram rem kuat-kuat.

Aku tak begitu yakin dengan penglihatanku. Ah, mungkin karena kaca helmku yang terkena rintik hujan hingga mengaburkan pandanganku, pikirku lagi. Aku pun membuka kaca helm guna memastikan. Allahu Rabb.. itu benar-benar tubuh manusia!!! Seorang laki-laki!! Ia sempurna terlentang di tengah jalan. Lampu sein Vixion putihnya masih berkelip-kelip di pinggir bahu jalan.

Aku pun segera memarkirkan motorku. Beberapa mobil lewat, perlahan. Tapi tak berhenti. Kenapa meraka tak berhenti?,tanyaku dalam  hati.

Dengan takut-takut aku menghampiri laki-laki itu. aku tak bisa melihat wajahnya yang tertelungkup.Helm besar hitamnya juga menutupinya dengan sempurna. Sebuah tas punggung yang menggelembung masih tersampir di pundaknya. Tadinya Ia mengenakan sebuah jas hujan berwarna hijau daun pucuk pisang. Tapi kini jas hujan bahkan pakaian laki-laki itu terburai tak berbentuk, memperlihatkan beberapa bagian  dari pakaian dalam dan kakinya. Aku tak tahu bagaimana pastinya, apakah ia korban kecelakaan tunggal atau tabrak lari. Hanya ada dia dan motornya di jalan itu.

Allahu Rabb.. aku harus bagaimana, bimbangku dalam hati. Tapi aku tetap mendekatinya,

“Mas.. mas... mas ..” panggilku. Entah suaraku yang kalah oleh suara hujan maupun deru kendaraan, laki-laki itu tetap tak bergeming.

Aku berusaha memfokuskan mataku. Laki-laki itu tidak bernafas!! Aku panik. Melihat ke sekeliling. Pada mobil yang lalu lalang tapi tak mau berhenti. Beberapa orang di balik kemudi itu bahkan terlihat menatapku dengan tatapan aneh. Aku harus bagaimana??? Jeritku dalam hati.

Lalu satu kesadaran muncul di benakku. Secara logika, aku memang tak mungkin memindahkan laki-laki itu ke pinggir. Tubuh laki-laki itu cukup besar, aku tak kan sanggup memindahkannya tanpa bantuan orang lain. Tapi meski begitu aku masih bisa menutupi agar pakaian dalamnya tak lagi terlihat. Tanganku pun bergerak.

Tak disangka sebuah tangan mencegkram tanganku. Aku pun tersentak kaget. Tangan itu milik seorang bapak-bapak separuh baya.

“Jangan disentuh!”
Aku menatap bapak yang mengenakan kaos berkerah dengan pola garis-garis putih itu.
“Biarkan saja. Ada kantor polisi di dekat sini.” katanya lagi.
“Kalau begitu bagaimana kalau kita pinggirkan saja pak?” tanyaku.
“Jangan!! Ribet urusannya nanti sama polisi!” Suara bapak-bapak itu kelewat tegas di telingaku.
Aku mematung bingung.
“Sudah kamu pergi saja. Jangan di sini!” kata bapak itu lagi. Kali ini setengah menghardik.

Aku pun menjauh dengan langkah ragu-ragu, mulai menstater motorku. Bapak-bapak itu pergi ke seberang jalan. Tempat dimana sebuah rumah makan nampak ramai dipenuhi orang-orang. Beberapa truk diparkir di halamannya yang luas. Bagaimana bisa orang-orang itu diam saja melihat laki-laki itu sekarat di jalanan?? Setakut itukah mereka terhadap resiko yang akan mereka tanggung jika menolong laki-laki itu? Bagaimana jika laki-laki itu adalah ayah, atau saudara, atau bahkan anak mereka? Relakah mereka melihatnya teronggok di tengah jalan raya seperti itu?? demi Allah , sungguh aku tak rela!!! 

Hah, takut? Jangan-jangan mereka hanya tak cukup peduli untuk menolongnya, kata salah satu sisi hatiku sinis.

Astaghfirullah, lalu apa bedanya aku dengan mereka yang juga tak dapat melakukan apapun untuk menolongnya? Bantah sisi hatiku yang lain. Tak terasa aku pun menangis dengan perasaan bersalah. Aku melanjutkan perjalananku.

Ahh.. kali ini hujan terasa begitu dingin dan tajam menusuk kulitku. Apakah bahkan hujan pun mengutuk kepengecutanku?? Dimana sisa-sisa moralitasku?? Bagaimana jika di hari akhir nanti Allah bertanya mengapa aku tak menolong laki-laki itu? 

Rabbi.. ighfirli...ighfirli..ighfirli..
Semoga semua amal ibadahmu di terima dan engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah, wahai laki-laki berselimut hujan.. Aamiin..



Suatu sore di bulan November,
Pulang Pisau

10 Aktivitas Yang Bisa Kalian Coba #dirumahaja Selain Rebahan.

Hi Gaes. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga tetap   selalu sehat dan berbahagia bersama orang-oarang tersayang di rumah. Well, hari...